Lahan tak Lagi Produktif karena Operasional PLTU, Petani Beralih Jualan Sarapan

Simbur Cahaya

Simburcahaya.com – Menurunnya produktivitas lahan pertanian dan perkebunan di sekitar kawasan tambang dan PLTU membuat sejumlah warga terpaksa mencari sumber penghasilan baru. Salah satunya adalah Darmiana (54), petani yang kini berjualan sarapan pagi di Desa Telatang setelah hasil kebun yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarganya terus merosot.

Selama bertahun-tahun, Darmiana menggantungkan kebutuhan hidup keluarga dari hasil berkebun, menanam cabai dan jagung serta beragam sayuran. Namun sejak aktivitas tambang batu bara dan PLTU beroperasi di wilayahnya, kondisi kebun tidak lagi seperti sebelumnya. Tanaman tumbuh kurang optimal dan hasil panen terus menurun sehingga penghasilan keluarga ikut berkurang.

“Dulu hasil kebun masih bisa membantu kebutuhan sehari-hari. Sekarang hasilnya jauh berkurang, jadi saya mencoba berjualan sarapan untuk menambah penghasilan,” ujarnya, diwawancarai pekan lalu.

Sudah dua bulan terakhir Darmiana membuka usaha kecil-kecilan di pinggir jalan. Meski demikian, pekerjaan barunya tidak sepenuhnya mudah. Setiap hari ia harus menghadapi debu yang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan operasional perusahaan, termasuk angkutan karyawan dan kendaraan pengangkut batu bara yang melintas di depan tempatnya berjualan.

Debu yang beterbangan kerap menempel pada makanan yang dijualnya. Kondisi tersebut membuat Darmiana harus bekerja lebih keras untuk menjaga kebersihan dagangan agar tetap layak dikonsumsi pembeli.

Kondisi serupa juga dialami Jumiati (40). Warga yang sebelumnya mengandalkan hasil perkebunan itu mengaku pendapatan dari kebun terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, ia memilih membuka usaha sarapan pagi sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarganya.

Berbeda dengan Darmiana, Jumiati telah lebih dahulu berjualan sejak 2024. Setiap pagi ia menyiapkan berbagai menu makanan sederhana, seperti nasi gemuk dan lontong untuk dijual kepada warga dan pengguna jalan. Menurutnya, usaha tersebut menjadi salah satu cara bertahan di tengah semakin berkurangnya hasil pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

“Kalau hanya mengandalkan kebun sekarang sudah sulit. Hasilnya tidak seperti dulu lagi, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan,” katanya.

Fenomena beralihnya petani dan pekebun menjadi pedagang kecil mulai terlihat di sejumlah wilayah sekitar kawasan industri batu bara dan PLTU, termasuk di Desa Telatang, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Menurunnya hasil kebun membuat sebagian warga mencari alternatif pekerjaan lain demi menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga, meski harus berhadapan dengan berbagai tantangan lingkungan yang mereka rasakan setiap hari.(Melia)

Artikel Lainnya

Gemes! Sambut Imlek Video 24 Bayi Panda Dipublikasikan

Dari Sumatera: Peringatan Hari Bumi 2026, 11 Organisasi Tuntut Selamatkan Planet, Suntik Mati PLTU Batu Bara

Sungai Lematang di Kabupaten Lahat Sumsel yang diduga tercemar dari aktivitas perusahaan tambang di sekitar sungai (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

Sungai Lematang Lahat Diduga Tercemar Limbah Perusahaan Batu Bara, Gubernur Sumsel Turunkan Tim dan Siapkan Sanksi Berat

Tinggalkan komentar