Peningkatan Suhu jadi Pemicu Anak-anak Rentan Terjangkit DBD di Palembang

Simbur Cahaya

Peningkatan Suhu jadi Pemicu Anak-anak Rentan Terjangkit DBD di Palembang

PALEMBANG–  Sabtu (17/06/2023) siang, saat matahari tepat di atas kepala, di rumahnya yang sangat sederhana di kawasan padat permukiman, Kelurahan 35 Ilir, Kota Palembang, Intan (33) bercerita bagaimana anak bungsunya meninggal, dan dinyatakan akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Aku menyesal karena saat datang untuk kedua kalinya ke puskesmas tidak memeriksakan darah anakku,” kenang Intan, sembari melipat pakaian.

Awalnya, Clara, bocah perempuan berusia 3,9 tahun tersebut terkena batuk pilek. Hingga Rabu (10/05/2023), Intan memutuskan untuk membawa anaknya ke salah satu puskesmas. Sebelumnya Intan sempat memberikan obat penurun panas yang dibelinya dari apotek.

Saat di puskesmas, Clara sempat diperiksa petugas dan diberi obat batuk, obat mencret, vitamin serta penurun panas.

“Anakku saat itu juga mencret dan muntah setelah dua hari mengalami batuk pilek,” kata Intan dengan suara yang mulai tertahan.

Berselang tiga hari setelah berobat dari puskesmas, persisnya Sabtu (13/05/2023) siang hingga Senin (15/05/2023), Clara mengalami panas tinggi. Kondisi ini membuat Intan kembali panik dan memutuskan membawa anaknya ke puskesmas.

Namun saat diperiksa petugas, suhu tubuh Clara dinyatakan normal, 37 derajat Celcius. Meskipun sudah diobati, kondisi Clara tak kunjung membaik, sebaliknya bocah periang  tersebut hanya diam, tampak lesu serta lemas.

Hal yang tak terduga terjadi keesokan harinya, Rabu (17/05/2023) sore, Clara kembali mengalami panas tinggi hingga kejang-kejang. Dibantu Ketua RT setempat, Intan langsung membawa Clara ke klinik.

Hitungan jam, Clara langsung dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS AK Gani. Sempat mengalami kejang-kejang selama 2 jam, sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Clara hanya tinggal nama. Ia dinyatakan meninggal.  

Intan (33) (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

“Setelah anak saya meninggal, saya baru tahu kalau hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan Clara terjangkit DBD,” kenang Intan.

Kasus-kasus DBD kemungkinan akan meningkat seiring dengan semakin panasnya suhu bumi dan seringnya hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi seperti itu cukup mempengaruhi kehidupan reproduksi vektor Aedes aegypti yang menyebarkan virus dengue penyebab demam berdarah.

Penderita Anak Mendominasi Kasus DBD

Kementerian Kesehatan RI, per 4 Juli 2023 merilis di Indonesia ada 42.690 DBD, dengan total kematian mencapai 317 kasus, di mana 63 persen kasus kematian terjadi pada anak-anak usia 0-14 tahun.

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat terjadi perubahan siklus temuan penderita DBD di Kota Palembang. Kurun Januari 2023 hingga Mei 2023, ada 343 kasus DBD ditemukan di Kota Pempek.

Sekitar 80 persen di antara penderita DBD adalah anak-anak dengan usia 0 sampai 18 tahun, dengan kasus kematian mencapai delapan anak. Jumlah tersebut, menurut Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Palembang Yudhi Setiawan, masih tergolong tinggi, karena di atas dua persen.

“Ini dipengaruhi karena terjadi pergeseran waktu, sebelumnya kasus DBD banyak terjadi pada bulan November hingga Maret, kini bahkan Juni pun masih ditemukan kasus demam berdarah menyerang anak-anak,” kata dia.

Selama 10 tahun terakhir, jumlah kasus DBD di Kota Palembang mengalami fluktuatif. Total kasus DBD mencapai 6.527, dengan incident rate (IR) berkisar 40/100.000 penduduk dan kematian atau CFR rata-rata satu persen.

“Memang tidak terjadi lonjakan yang drastis tetapi kini terjadi perubahan atau bergeser dari waktu sebelumnya. Umumnya, masa berkembangbiaknya nyamuk penyebab Aedes aegypti pada akhir dan awal tahun saat musim hujan, tapi akhir-akhir ini bergeser,” kata Yudhi Setiawan.

Artikel Lainnya

Nadine Chandrawinata: Capres Kurang Detail Bahas Lingkungan pada Debat Pilpres 2024

Lumbung Pangan di Lahan Tambang: Inovasi dan Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Wilayah Pertambangan Indonesia

Aksi SP Palembang

COP29 Solusi Iklim Palsu, Solidaritas Perempuan Palembang Soroti Proyek Geothermal

Tinggalkan komentar