Cerita Jurnalis Perempuan: Ketika aku Tampil Feminim saat Liputan

Simbur Cahaya

SUATU sore menjelang malam, aku dengan tim dengan percaya diri berangkat liputan, ke Griya Agung, Istana Gubernur Sumatera Selatan, Kota Palembang. Berbekal peralatan liputan berupa, 2 unit kamera DSLR dan 2 unit tripod kami siap meliput kegiatan penting yang ditugaskan dari kampus.

Setelah menunggu, aku dan tim mempersiapkan semua peralatan yang akan digunakan pada saat kegiatan berlangsung, mulai dari persiapan kamera, list pertanyaan dan tentunya sebagai jurnalis muda juga menyiapkan kekuatan jiwa dan keberanian.

Saat itu, kala kegiatan berlangsung dengan rasa percaya diri dan berani, aku membawa kamera DSLR yang berukuran besar dengan berat mencapai 3 kilogram diatas bahu saya, dan mulai melakukan tugas merekam kegiatan tersebut.

Meskipun sedang melakukan reportase, tetapi aku tetap dengan penampilan yang kupilih, tampil feminim dari mulai pakaian yang rapi, memadukan jilbab yang senada dengan seragam yang ku kenakan hingga menggunakan sepatu heel.

Berpakaian dan penampilan feminim menurutku tetap nyaman, meskipun sedang menjalankan tugas-tugas jurnalistik, tetapi tidak dengan jurnalis lainnya dan orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

“Aku seolah menjadi pusat perhatian, karena tampil beda dengan jurnalis lain,” ucapku kepada kawan-kawan satu tim.

Padahal selama 3 tahun melakukan liputan, aku tetap tak mengubah gaya berpakaianku, karena memang tidak membuat risih atau nyaman saja. Pakaianku tak menghalangi kerja-kerja jurnalistik yang ku lakukan. Namun, ternyata Ketika aku sibuk meliput, menarik perhatian jurnalis lain dan menyoroti penampilanku, yang sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepadaku.

“Kak, berasal dari media mana?,” tanya seorang jurnalis saat kegiatan yang sama.

Dengan itu spontan aku menjawab “Saya adalah seorang jurnalis kampus,” jawabku.

Ruang Aman bagi Jurnalis Perempuan

Sesaat perasaanku hening hingga menghentikanku kegiatanku merekam momen pada kegiatan itu. Namun aku tetap mencoba menghiraukan dan kembali mencoba menjalankan tugas dengan baik. Selang beberapa waktu jurnalis lain bertanya juga.

“Kenapa Anda memilih profesi ini?, padahal kamu seorang perempuan, dan dari gaya berpakaianmu saja terlihat bahwa jurnalis jarang berdandan seperti ini?,” ucapnya.

Aku menjawab dengan tegas, “Karena aku mencintai profesi ini dan ini profesi yang aku mau,”

Bukan pertama kali aku mendapati pertanyaan seperti ini, tetapi aku menyukai kerja menjadi jurnalis karena membuat aku merasa tertantang dan banyak pengalaman baru dalam setiap liputan.

Dari beberapa kejadian yang sama yang terjadi, tidak merubah sudut pandang aku terhadap jurnalis perempuan dan tetap memilih teguh untuk mencintai dan menekuni profesi ini, karna dengan tegas aku sampaikan bahwa tidak ada batasan bagi perempuan untuk berkarya di bidang apapun yang mereka pilih dan mereka cintai, sekalipun beberapa orang menanggap bahwa perempuan dianggap lemah dan tidak boleh bekerja dengan risiko yang berat sekalipun.

Aku berharap jurnalis perempuan di dunia khususnya di Indonesia, mendapatkan ruang kerja yang setara, aman dan bebas dari segala bentuk diskriminasi karena perempuan mempunyai hak yang sama dan ingin berkarya dan memberikan informasi yang terbaik.(Senia Aprinia)

 

 

Artikel Lainnya

Ilustrasi Pinterest

Tuhan, Jangan Sembuhkan Aku Terlalu Cepat

Ilustrasi Sangah

Sangah

Tinggalkan komentar