Tuhan, Jangan Sembuhkan Aku Terlalu Cepat

Simbur Cahaya

Ilustrasi Pinterest

Oleh: Oktavia

Ada satu tempat yang pernah jadi alasan aku bertahan tapi juga tempat yang meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.

Malam ini, aku kembali ke sana, langkahku berat tapi penuh tekad.

Di samping, kakakku menyetir dalam diam.

Suara mesin mobil dan angin malam menjadi satu-satunya teman di tengah hening.

Lalu, dengan suara lembut yang menyimpan kekhawatiran, dia bertanya:
“Kau nggak apa-apa, Sangah?”

Aku mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski dada terasa sesak.

“Iya…” jawabku lirih, nyaris tenggelam di antara suara deru mesin mobil.

Jantungku berdebar tak beraturan, seperti mobil yang melaju kencang menembus gelap malam. Ujung jariku dingin, entah karena AC atau ketegangan yang menggumpal dalam dada.

Dalam hati, aku bergulat dengan keraguan yang tak kunjung reda.

“Apa aku benar-benar sanggup melangkah ke sana? Setelah semua yang terjadi, setelah ratusan malam aku dihantui mimpi buruk? Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cukup itu.”

Sejak dulu, mempercayai orang adalah hal tersulit bagiku karena luka kekerasan yang pernah kualami. Perasaan yang aku berikan tapi akhirnya mengecewakanku. Aku hanya menyisakan sedikit kepercayaan untuk pria penyelamatku.

Di parkiran, aku turun dari mobil dan berjalan perlahan menuju kasir. Aroma kopi dan kue yang dulu begitu familiar kini menusuk tajam. Wajah-wajah yang pernah menyambutku hangat, kini menatap dingin penuh curiga.

Sorot mata mereka tajam, seperti menilai aku asing di antara mereka bahkan seolah aku pelacur yang telah merusak kehormatan mereka. Senyumku kaku, berusaha bersikap biasa meski hatiku terkoyak.

“Apa yang terjadi? Ke mana sorot mata hangat itu? Ke mana sapaan lembut yang dulu menyentuh hatiku?” tanyaku dalam hati.

Temanku duduk di depanku, bibirnya kering, tangan gemetar tak menentu.

“Malam itu kami langsung dibawa ke kantor polisi. Mereka memintamu merahasiakan semuanya dariku. Katanya ceritamu bohong, kamu hanya mempermainkan kami,” ucapnya dengan suara berat, nyaris patah.

Aku terpaku. Mereka lebih percaya kata-kata kosong daripada apa yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.

Pria itu, yang dulu kusebut penyelamat, yang dengan lembut menghapus air mataku, memeluk tubuhku yang gemetar, dan mendengar jerit batinku, kini memilih diam dan pergi tanpa sepatah kata.

Dalam sepertiga malam yang sunyi, aku berdialog dengan Tuhan.

“Tuhan, terima kasih sudah menitipkan rasa cinta dalam hatiku yang hancur,” bisikku lirih, hampir tak terdengar.

“Izinkan aku merasakan sakit ini, Tuhan. Jangan sembuhkan aku terlalu cepat. Biarkan aku menikmati setiap tetes air mata dan setiap deru kesedihan, karena dari sini aku tahu aku masih hidup.”

Aku mengusap dada dengan tangan gemetar, mengucapkan kalimat lirih, “Ya Allah, ikhlas… ya Allah, ikhlas…”

Air mataku mengalir, bertolak belakang dengan kata-kataku.

“Tuhan, aku tak ingin kehilangan-Mu walau aku hancur.”

Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke tempat itu.

Tatapan mereka mulai berubah; tak lagi dingin dan menusuk. Ada yang mengangguk, ada yang tersenyum pelan.

Lalu dia datang. Pria itu, penyelamatku.

Dia menyapaku dengan suara sederhana,

“Sehat, Sa?”

Tanganku gemetar, dadaku sesak menahan segala perasaan yang membuncah.

Satu kalimat itu terdengar seperti gemuruh yang mengguncang setelah semua yang terjadi.

Aku ingin berkata,
“Bagaimana bisa kamu hanya bertanya ‘Sehat, Sa?’ setelah meninggalkanku dalam gelap?”

Namun aku memilih diam, menatapnya dengan luka yang telah matang.

Kami bertemu lagi tanpa sengaja. Dia menghampiriku.

Aku bertanya pelan,
“Nggak ada yang mau kakak sampaikan?”

Dia terdiam, menunduk.

“Kalau begitu, biar aku yang menyampaikan. Aku percaya sesuatu yang menurut kita terbaik belum tentu diridai Allah. Jalan yang kakak pilih mungkin memang sudah diridai-Nya.”

Dia diam, mengangguk perlahan.

“Aku percaya yang bukan takdirmu tak akan tinggal. Dan yang benar-benar takdirmu tidak akan pernah melewatkanmu.”

Kini aku tahu, aku bisa melepaskan cinta, rindu, dan luka sekaligus.

Tuhan tak pernah menyembuhkanku terlalu cepat. Dia menunggu sampai aku siap.

“Tuhan, jangan sembuhkan aku terlalu cepat. Biarkan aku berdamai dengan luka ini. Dari sinilah aku belajar bahwa cinta paling sejati datang dari-Mu.”

Artikel Lainnya

Ilustrasi Sangah

Sangah

Tinggalkan komentar