Sangah

Simbur Cahaya

Ilustrasi Sangah

Oleh: Oktavia

Selasa Sore, 22 April 2025.
Ruang kecil berukuran dua kali tiga meter itu terasa pengap. Dinding bercorak, warna abu dan hitam saling menyerap cahaya. Kasur dengan seprai coklat dibiarkan tanpa lipatan, lantainya dingin, dan aroma lembap mengendap di udara.

Di sudut ruang, aku melihat seorang perempuan muda duduk memeluk lutut. Kerudung biru muda membingkai wajahnya yang bulat, sayu, pucat. Wajahnya tenggelam di balik lipatan tubuhnya sendiri.

Aku mendekat perlahan.
“Ada apa Sangah?” tanyaku, nyaris berbisik.
Ia menoleh tak menjawab. Matanya sembab, dipenuhi genangan luka yang tak tertampung oleh kelopak. Ia mengangkat tangan pelan, memperlihatkan pergelangan yang membiru. Bekas lilitan, bekas dilukai.

Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat, seolah kata-kata kehilangan bentuk.
Mungkin dia ingin sendiri dulu, gumamku dalam hati.
Aku meninggalkannya. Tapi ruang itu seolah menolak dilupakan.

Setiap aku melintas, terdengar suara lantunan ayat Al-Qur’an diiringi isak tangis yang tak mampu ia tahan lagi. Posisinya masih sama. Peluk lutut, wajah terkubur. Bantal yang ia sandari sudah basah, entah oleh peluh atau air mata.

Di dekatnya, piring nasi masih utuh, hanya sedikit yang tersentuh. Tiga cangkir minuman tersusun tidak satu pun ia sentuh.

Jam di layar ponselku menunjukkan pukul dua belas malam.
Aku masuk kembali. Duduk di sampingnya, diam. Lama kami hanya ditemani sunyi.

Beberapa menit kemudian, aku berbicara lagi. Tapi suaraku lirih, seperti suara dari dalam cermin.
“Ada laki-laki… mencari Sangah,” bisikku, entah pada siapa.

Tubuhnya sontak tegang. Bahunya naik-turun. Napasnya tersengal. Wajahnya memucat. Dan tiba-tiba tangis itu pecah.

“Tanganku… diborgol,” katanya. Suaranya putus-putus, penuh trauma.

“Tubuhku dikurung…, lalu… pisau itu… diarahkan ke leherku,”

Air matanya jatuh. Tak ada jeda. Tak ada kekuatan untuk menahannya lagi.

“Aku enggak bisa lari… enggak bisa jerit… cuma bisa berharap semua ini mimpi buruk.”

Aku memandangnya. Dan entah sejak kapan, ruang itu terasa sangat akrab.

Dinding abu dan hitam, bau apek yang kukenal, suara ayat suci. Semua terasa terlalu dekat.

Dan tiba-tiba aku mengerti.
Aku sedang duduk di samping diriku sendiri.
Bukan Sarah. Bukan siapa-siapa.

Perempuan yang kupandangi itu adalah aku. Wajah yang sembab itu milikku.

Aku adalah Sangah.

 

Artikel Lainnya

Ilustrasi Pinterest

Tuhan, Jangan Sembuhkan Aku Terlalu Cepat

Cerita Jurnalis Perempuan: Ketika aku Tampil Feminim saat Liputan

Tinggalkan komentar