Budaya Patriarki dan Fatherless No.3 di Indonesia

Simbur Cahaya

DATA Lembaga Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Unicef pada tahun 2021, sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Angka tersebut setara dengan sekitar 30,83 juta anak usia dini, atau kurang lebih 2.999.577 anak yang kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka.

Sedangkan survei BPS tahun 2021 menunjukkan, hanya 37,17% anak usia 0-5 tahun yang dirawat secara bersamaan oleh ayah dan ibu kandung.

Publikasi data dari dua lembaga tersebut, memperkuat alasan munculnya isu fatherless sejak beberapa waktu ini. Pembahasan fatherless ramai muncul dipercakapan media social dan juga dibahas media arusutama.

Nur (40) seorang ibu dengan dua anak mengakui kerja sama dengan suami dalam mengasuh anak sangat penting. Namun, suami yang bekerja di luar sering kali waktunya tidak cukup untuk bisa bersama-sama mendidik anak.

Meskipun, diwaktu libur, seperti akhir pekan ia mengatakan selalu menyiapkan waktu berkualitas bersama suami untuk anak-anak.

“Kami biasanya meluangkan waktu bersama ke tempat wisata, dan disanalah pergantian peran mengasuh anak diambil alih suami,” kata dia.

Luna (45) perempuan pekerja di Palembang mengakui meskipun dirinya bekerja di luar rumah, tetapi peran-peran domestik masih menjadi hal utama rutinitas harianya.

“Sebelum berangkat kerja, saya pagi-pagi menyiapkan masakan dan mengurus beragam kebutuhan anak, termasuk memandikan,” kata dia. Begitu pula ketika pulang kerja, rutinitas mengurus anak kembali berlanjut.

Ia mengungkapkan hamper semua pekerjaan domestic dan pengasuhan dilakukan sendiri, meskipun ada suami.

“Sebenarnya saya berusaha membagi tanggung jawab, tetapi hingga kini suami hanya bertugas bekerja di luar rumah, sedangkan kerja-kerja keperawatan masih saya,” kata dia lagi.

Peran Penting Ayah

Lely Mela Sari, S.Tp, CEMHt, Praktisi Mindfulness dan Mental Health mengungkapkan budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia berkontribusi pada pandangan bahwa peran utama ayah adalah mencari nafkah.

Akibatnya, banyak yang mengabaikan peran penting seorang ayah dalam tumbuh kembang anak, kata dia, dibincangi, Rabu (12/11/2025).

Hal itu, Menurut Ayi panggilan akrabnya menyebabkan tidak mindful parenting, keterlibatan terkadang hanya dimaknai keterlibatan fisik (kehadiran).

Sejatinya tidak hanya berarti secara fisik, tetapi juga keterlibatan emosional dan psikologis dari seorang ayah dalam kehidupan anak sangat penting, tambah dia.

Ia menjelaskan seorang ayah berperan dalam memberikan rasa aman dan kepercayaan diri bagi anak.

Anak yang dekat dengan ayah tidak akan kehilangan batasannya (boundaries), karena akan lebih mudah memahami, menerima, dan menerapkan batasan yang sehat karena ia terbiasa dengan aturan dan komunikasi yang jelas dari figur ayahnya, ujar dia.

Namun jika, memang kehadiran ayah secara fisik dan pengasuhan tidak bisa dilibatkan, karena misalnya perempuan menjadi ibu tunggal. Peran ayah, tentunya tetap tidak bisa tergantikan tetapi memberikan kasih sayang yang konsisten, menciptakan lingkungan yang stabil, dan melibatkan sosok pria lain seperti kakek atau paman sebagai figur tambahan, menjadi langkah tepat dalam upaya menyeimbangkan pengasuhan.

Selain itu, Ayi juga menyarankan untuk menerapkan komunikasi secara terbuka antara ibu dan anak.

“Bicarakan tentang kondisi ini dengan bahasa yang mudah dipahami anak sesuai usianya. Bantu anak beradaptasi dengan kondisi yang ada, terutama jika ada perubahan lingkungan karena perceraian,” kata dia lagi.

Membangun kebersamaan keluarga, dan meciptakan tradisi atau rutinitas bersama untuk mempererat ikatan keluarga juga sangat penting.

Selain itu, ibu tunggal juga penting untuk dalam kondisi emosi yang stabil, berpikirlah positif dan jangan menyalahkan diri sendiri atas situasi yang terjadi, tutur dia.(Nila Ertina)

Artikel Lainnya

Kalyanamitra Nilai Pernyataan Menteri Agama, Abaikan Fakta dan Menyakiti Korban Kekerasan Seksual di Pesantren

Angka Harapan Hidup Wong Sumsel Meningkat, ini Penjelasan BPS

Pilkada 2024: Pentingnya Suarakan Isu Gender dan Inklusi

Tinggalkan komentar