SIANG itu, memasuki Lorong Sepupu angin berhembus membawa aroma khas lem sagu dan bambu yang baru saja dibelah. Sejumlah layangan digantung berjejer di depan beberapa rumah warga. Mayoritas warga, umumnya Ibu Rumah Tangga (IRT) tampak sibuk dengan kegiatan yang sama memproduksi ribuan layang-layang.
Daerah ini dikenal dengan sebutan Kampung Layangan (Kayangan). Di mana pada tahun 1970-an menjadi titik awal pusat perajin layang-layang tradisional kelurahan 3-4 Ulu, kecamatan Sebrang Ulu 1, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Lalu, pada tahun 1990-an memasuki era generasi ke-3. Masa itu, sepulang sekolah perempuan bernama Juwairia membantu ibunya merakit layangan yang sudah dicetak dengan motif berwarna. Saat Juwairia berusia 10 tahun masih tingkatan Sekolah Dasar (SD).
“Tradisi membuat layangan ini sudah berlangsung sejak generasi nenek, kemudian dilanjutkan oleh ibu, lalu aku, hingga kini mulai diwariskan kepada anak-anak,” kata Juwairia (46), dibincangi belum lama ini.
Setiap tahapan pekerjaan kecil itu, ia perlahan memahami proses membuat layangan secara utuh. Dari bambu yang sudah dibelah menjadi beberapa bagian (meraut), proses memberi motif warna pada kertas layangan (mereko), dan proses menempelkan kertas ke bambu yang sudah direko (merakat).
Hingga kini, membuat layangan menjadi sumber perekonomian bagi Juwairia. Ia juga tetap tak melupakan pekerjaan di rumah, ia membuat layangan setelah pekerjaan rumah selesai.
Penghargaan Kampung Kreatif
Sekitar pukul 10-an pagi, setiap hari Juwairia dan IRT lainnya berkumpul di satu titik untuk membuat layangan bersama. Baginya, jika dilakukan sendiri akan terasa jenuh dan kantuk. Berbeda ketika dilakukan bersama, dengan saling bercerita satu sama lain terasa lebih semangat mengerjakan puluhan hingga ratusan layangan.
“Kebanyakan perajinnya IRT, bapak-bapak juga kadang membantu tapi setelah pekerjaan mereka selesai, bapak-bapak yang fokus membuat layangan biasanya yang emang tidak ada kerja di luar,” ucapnya.
Tahun 2025, camat dan lurah setempat datang ke Kayangan untuk melihat sekaligus menilai kreativitas perajin layangan tradisional. Layangan yang mereka buat saat itu memiliki motif khas Palembang, yaitu ikan belido dan Jembatan Ampera.
Kerja keras bertahun-tahun itu akhirnya mendapat penghargaan. Dinas Pariwisata Kota Palembang menggelar acara puncak penganugerahan Lomba Kampung Kreatif VI Tahun 2025. Salah satu pemenang lomba jatuh kepada Kampung Layangan meraih juara kedua kampung kreatif tingkat Kota Palembang.
Kini, tradisi kreatif sudah mulai dilestarikan kepada generasi ke-4. Juwairia memberikan peluang untuk anak perempuannya membantu pekerjaan dengan meraut bambu bersama hingga menjadi layangan yang siap di jual.
“Anak sudah mulai mengikuti jejak perekonomian kreatif ini, tidak ada unsur paksakan hanya kebiasaan yang sering terlihat anak-anak perlahan diwariskan,” ungkapnya.(Manda Dwi Lestari/Bersambung)
Foto: Manda Dwi Lestari









