Nenek Penjual Bunga Makam: Setengah Abad Menjalani Hidup dari Kelopak Harapan

Simbur Cahaya

Di antara rimbunan pohon dan suasana tenang Pemakaman Kamboja Kota Palembang, seorang nenek berusia 77 tahun tampak duduk di bangku kecil sambil merapikan ikatan bunga kenanga, melati, dan kamboja dirangkai dengan daun pandan.

Senyumnya ramah, langkahnya pelan namun penuh keteguhan. Dialah Masayu Indrawati, atau yang lebih akrab disapa warga sebagai Ibu Indra, penjual bunga makam lebih dari 50 tahun berlalu.

Selama lebih dari setengah abad, Ia hampir setiap hari di pemakaman tersebut, menjual beragam rangkaian bunga dengan harga berkisar Rp 10 ribu untuk tiga tangkai bunga. Niat awal hanya ingin menambah penghasilan untuk membantu perekonomian keluarga kini telah menjadi bagian dari hidupnya.

Bersama suaminya, seorang penjahit sekaligus tukang urut, mereka membesarkan sembilan orang anak dari hasil kerja keras yang sederhana namun penuh keikhlasan.

Kini, meskipun sebagian besar anak-anaknya sudah berkeluarga dan hidup mandiri, bahkan sering membantu kebutuhan ia dan suami, namun Masayu Indrawati tetap memilih berjualan bunga. Ketika ditanya mengapa ia masih setia menjalankan pekerjaannya.

“Saya memang mencintai kerjaan ini. Ini pekerjaan ibu saya dulu, saya hanya meneruskan. Rasanya kalau tidak jualan, ada yang kurang,” ucapnya lembut.

Alasan lain yang membuat ia betah berada di pemakaman Kamboja, lokasi ia berjualan berada dekat dengan makam kedua orang tuanya, sehingga setiap hari ia dapat mampir menyapa dan mendoakan mereka.

“Kerja di sini rasanya dekat dengan ayah dan ibu. Kalau di rumah saya cuma duduk. Di sini saya bisa bergerak, bertemu orang, dan tetap merasa berguna,” ungkapnya.

Dalam kehidupannya, bunga-bunga yang ia ikat bukan hanya dagangan, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang telah lama ia jalani. Dari rangkaian bunganya pula, dulu anak-anaknya bisa sekolah dan tumbuh menjadi pribadi mandiri.

Rutinitasnya yang sederhana di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kamboja adalah bukti ketekunan dan kecintaan terhadap pekerjaan yang telah menjadi identitas dirinya selama puluhan tahun.

Di tengah harum kenanga dan langkah peziarah yang datang silih berganti, dia tetap hadir sebagai sosok yang memberi warna, kehangatan, dan cerita di tempat yang banyak orang anggap sunyi dan mistis.(Senia Aprinia Sari)

 

Artikel Lainnya

Segudang Prestasi Tingkat Internasional di Srijayanasa Dance School

Tinggalkan komentar