Mengungkap Kekerasan Berbasis Gender di Lingkar Tambang, Gumay Talang

Simbur Cahaya

Simburcahaya.com – Kekerasan Berbasis Gender (KBG) menjadi fenomena yang terungkap marak di tengah aktivitas industri ekstraktif di daerah lingkar tambang.

Karena itu, pembekalan paralegal bagi perempuan yang bermukim di lingkar tambang batu bara mendesak dilaksanakan, mengingat memiliki keterampilan hukum
esensial untuk membantu advokat dalam memberikan pelayanan hukum sangat strategis untuk mendorong perempuan berdaya.

Atas kondisi tersebut, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) APIK Sumatera Selatan (Sumsel) menyelenggarakan Pelatihan Paralegal bagi Komunitas di Sekitar Industri Ekstraktif Kecamatan Gumay Talang, Kabupaten Lahat.

YLBH APIK menyelenggarakan pelatihan pada, Kamis-Sabtu, 25-27 Desember 2025, dengan melibatkan peserta dari Forum Srikandi Gumay Talang, Lahat.

Ketua YLBH APIK Sumsel, Maryani Marzuki mengungkapkan pelatihan paralegal in sangat penting untuk perempuan yang terdampak industri ekstraktif.

Ia menjelaskan, kenapa perempuan karena perempuan lah yang paling terdampak dari perubahan lanskap alam, begitu juga dikaitkan dengan industri tambang batu bara.

“Kehadiran paralegal akan berperan aktif memastikan masyarakat, khususnya yang rentan, mengerti hak-haknya
dan mampu memperjuangkannya secara efektif,” kata dia, Sabtu (27/2/2025).

Dia menjelaskan peran paralegal krusial, sebagai cara menjembatan kesenjangan sosial dan hukum, menciptakan akses keadilan yang lebih merata.

Karena sesungguhnya, tidak ada perbedaan dalam dimata hukum, ujar dia.

Ketua Srikandi Gumay Talang, Deli mengungkapkan operasional perusahaan batu bara di kawasan Gumay Talang telah mengubah kondisi alam dan masyarakat.

“Termasuk juga ditemukan maraknya kasus KBG dialami perempuan dan anak,” kata dia.

Ia bercerita kerap menemui perempuan yang mengalami kekerasan karena perubahan sikap suami. Biasanya, suami yang bekerja di tambang akan berubah prilakunya.

“Perubahan dipicu karena biasanya gaya hidup yang berubah karena bekerja di tambang,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Siti, tak hanya masalah KBG terungkap di desa-desa lingkar tambang, tetapi masalah sosial, lingkungan dan kesehatan juga terus meluas.

“Kami tidak bisa lagi merasakan udara yang sejuk, udara bersih dan air bersih,” kata dia.(Nila Ertina, Bersambung)

Artikel Lainnya

Magdalene.co Ungkap Framing Femisida di Media, tak Berpihak pada Korban

Kopi, Padi, dan Perempuan: Harmoni dalam Siklus Kehidupan Tunggu Tubang

Cerita Petani di Lingkar PLTU, Bertahan Meskipun kini Lahan tak Produktif dan Sungai jadi Pembuangan Limbah

Tinggalkan komentar