Simburcahaya.com – Menjadi perempuan berhijab di tengah gemerlap industri pertelevisian ibu kota bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Di antara tuntutan penampilan, pandangan orang lain, dan mimpi yang ingin diwujudkan, aku belajar bahwa keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Ibu kota selalu punya cara untuk membuat seseorang merasa kecil sekaligus bermimpi besar. Gedung-gedung tinggi, kesibukan yang seolah tak pernah berhenti, dan orang-orang yang berlomba mengejar kesempatan menjadi pemandangan yang perlahan akrab bagiku. Sebagai anak rantau, aku datang dengan membawa harapan ingin bekerja, berkembang, membuktikan kemampuan diri, dan menjadi seseorang yang bisa membanggakan keluarga.
Namun, di antara semua mimpi yang kubawa dari kampung halaman, ada satu hal yang tidak pernah ingin kutanggalkan: hijabku.
Aku adalah perempuan yang memilih berpakaian tertutup dan mengenakan hijab. Bagiku, hijab bukan sekadar kain yang menutupi kepala, melainkan bagian dari identitas, prinsip, dan keyakinan yang ingin terus kujaga, di mana pun aku berada.
Keputusan itu terasa sederhana ketika aku masih berada di lingkungan yang akrab dengan keseharianku. Namun, semuanya mulai terasa berbeda ketika aku memasuki dunia kerja, khususnya industri pertelevisian yang begitu dekat dengan penampilan, citra visual, dan perkembangan fashion.
Di dunia yang kutekuni, penampilan sering kali menjadi bagian dari penilaian pertama. Ada standar tertentu tentang bagaimana seseorang sebaiknya terlihat, bagaimana busana dikenakan, hingga bagaimana citra diri ditampilkan di hadapan publik. Aku memahami bahwa industri ini memiliki karakter dan kebutuhan tersendiri. Akan tetapi, aku tidak pernah membayangkan bahwa pilihan berpakaianku bisa menjadi sesuatu yang membuat orang lain meragukan kemampuanku.
Kalimat-kalimat itu datang sesekali, tetapi cukup membekas.
“Oh, sayang banget ya, tapi kamu berhijab.”
“Bisa aja sih, tapi kamu kan berhijab.”
Awalnya, aku berusaha menanggapinya dengan biasa saja. Mungkin bagi mereka, kalimat itu hanya komentar ringan. Mungkin mereka tidak bermaksud menyakiti. Namun, ketika ucapan serupa terus terdengar, aku mulai menyadari bahwa hijab yang kukenakan terkadang dipandang sebagai batas sebelum orang lain benar-benar mengenal kemampuanku.
Kata sayang banget menjadi bagian yang paling sulit kuterima. Seolah-olah ada sesuatu dalam diriku yang kurang, ada kesempatan yang semestinya bisa kuraih tetapi menjadi tidak sempurna hanya karena aku memilih berhijab.
Padahal, aku datang bukan untuk meminta orang lain mengubah keyakinannya. Aku hanya ingin diberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan apa yang bisa kulakukan.
Aku ingin dinilai dari kemampuan, kerja keras, dan kesungguhanku, bukan semata-mata dari apa yang kukenakan.
Dan ternyata, perasaan itu tidak hanya kutemui di tempat kerja.
Di lingkungan sosial, percakapan sehari-hari pun terkadang menghadirkan komentar serupa. Ada orang yang menganggap penampilanku terlalu membatasi pilihan, ada pula yang menyayangkan bahwa aku mengenakan hijab ketika berada di lingkungan yang identik dengan fashion dan kebebasan berekspresi.
Lama-kelamaan, aku belajar bahwa tantangan menjadi perempuan berhijab bukan hanya tentang menghadapi aturan atau standar penampilan tertentu. Terkadang, tantangan terbesarnya justru menghadapi anggapan orang lain yang lebih dahulu membatasi diriku sebelum aku sempat membuktikan apa pun.
Sebagai anak rantau, pengalaman itu terasa lebih berat karena aku sedang membangun kehidupan dari awal. Jauh dari keluarga dan lingkungan yang membuatku nyaman, aku harus belajar berdiri di atas kakiku sendiri. Ada mimpi yang harus kuperjuangkan, kebutuhan hidup yang harus kupenuhi, dan masa depan yang ingin kubangun.
Tentu saja, pernah terlintas pertanyaan dalam benakku apakah pilihanku ini akan membuat perjalananku lebih sulit, Apakah aku harus mengubah sesuatu dari diriku agar bisa lebih mudah diterima.
Namun, setiap kali pertanyaan itu muncul, aku kembali mengingat alasan mengapa aku memulai perjalanan ini.
Aku merantau untuk bertumbuh, bukan untuk kehilangan diriku sendiri. Aku datang ke ibu kota untuk mengejar mimpi, bukan untuk meninggalkan prinsip yang selama ini kujaga.
Dari situlah aku perlahan memahami bahwa mempertahankan keyakinan bukan berarti menutup diri dari perubahan. Aku tetap harus belajar, meningkatkan keterampilan, memperluas wawasan, membangun relasi, dan menyesuaikan diri dengan profesionalisme dunia kerja. Aku harus mampu membuktikan bahwa perempuan berhijab juga bisa memiliki kreativitas, daya saing, dan kualitas kerja yang baik.
Bagiku, hijab tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa dalam mengejar sesuatu, ada nilai-nilai yang ingin tetap kubawa.
Aku tidak ingin hijab menjadi tembok yang memisahkanku dari mimpi. Aku ingin ia menjadi bagian dari perjalanan yang menguatkanku untuk terus melangkah.
Sebab, menjadi perempuan berhijab bukan berarti aku tidak boleh memiliki mimpi besar. Aku tetap boleh bekerja di industri yang kompetitif, belajar tentang fashion, berkarya, dan mengambil kesempatan yang datang. Aku tetap boleh memiliki ambisi dan keinginan untuk berhasil.
Berhijab tidak menghapus kemampuanku. Berpakaian tertutup tidak mengurangi kesungguhanku. Dan keyakinan yang kupegang tidak seharusnya membuat orang lain langsung menyimpulkan bahwa aku tidak cocok berada di suatu bidang.
Aku juga menyadari bahwa tidak semua pintu akan terbuka untukku. Ada kesempatan yang mungkin tidak sesuai dengan prinsipku, ada lingkungan yang mungkin belum bisa menerima penampilanku, dan ada pandangan yang tidak bisa kuubah hanya dengan satu penjelasan. Namun, aku belajar bahwa penolakan tidak selalu berarti aku tidak mampu. Terkadang, aku hanya perlu menemukan ruang yang bisa menghargai kemampuan sekaligus menghormati prinsipku.
Di tengah perjalanan itu, aku mulai memaknai keberhasilan dengan cara yang berbeda. Berhasil bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang bisa kuraih atau seberapa besar pengakuan yang kudapatkan. Berhasil juga berarti tetap mampu menjaga diri ketika berada di lingkungan yang berbeda, tetap berusaha ketika diremehkan, dan tetap bersyukur ketika kesempatan datang dari arah yang tidak pernah kuduga.
Aku percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilainya sendiri. Aku juga percaya bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung terlihat. Terkadang, keberkahan datang melalui kesempatan yang tepat, pertemuan dengan orang-orang yang menghargai kita, perlindungan dari jalan yang tidak sesuai dengan prinsip kita, atau kekuatan untuk tetap bertahan ketika keadaan terasa sulit.
Bukan berarti perjalanan ini akan selalu mudah atau semua pintu akan terbuka hanya karena aku mempertahankan hijab. Aku tetap harus bekerja keras, menerima kritik, memperbaiki kekurangan, dan membuktikan kualitas diriku. Namun, aku ingin percaya bahwa ketika aku berusaha menyeimbangkan mimpi dengan keyakinan, ada makna yang lebih besar daripada sekadar pencapaian duniawi.
Kini, aku tidak ingin lagi memandang hijab sebagai sesuatu yang harus terus-menerus kujelaskan untuk membuktikan bahwa aku layak berada di suatu tempat. Aku ingin kehadiranku, pekerjaanku, dan caraku memperlakukan orang lain berbicara dengan sendirinya.
Aku ingin suatu hari nanti, ketika seseorang melihat perempuan berhijab bekerja di industri pertelevisian, yang pertama kali terlintas bukanlah pertanyaan tentang keterbatasannya, melainkan rasa ingin tahu tentang karya dan kemampuan yang dimilikinya.
Aku ingin menjadi bagian dari perubahan cara pandang itu, sekecil apa pun langkahku.
Sebab, di balik hijab yang kukenakan, ada seorang anak rantau yang sedang belajar bertahan. Ada seorang perempuan yang ingin membahagiakan keluarganya. Ada mimpi-mimpi yang sedang diperjuangkan dengan segala keterbatasan dan keberanian yang kumiliki.
Dan ada keyakinan yang ingin kujaga, bukan untuk menjauhkan diriku dari dunia, melainkan untuk membantuku menjalani dunia dengan lebih utuh.
Aku tidak tahu sejauh apa langkahku akan membawaku. Namun, aku ingin terus berjalan tanpa harus memilih antara menjadi perempuan yang memiliki mimpi dan menjadi perempuan yang teguh pada keyakinannya.
Karena bagiku, keduanya tidak pernah harus saling meniadakan.
Aku berhijab, dan aku tetap berhak bermimpi. Aku ingin berkembang tanpa kehilangan jati diri, meraih kesempatan tanpa mengorbankan keyakinan, serta mencapai keberhasilan yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga membawa keberkahan.
Jika suatu hari nanti aku berhasil berdiri di tempat yang dahulu dianggap sulit untuk kumasuki, aku ingin keberhasilanku menjadi bukti sederhana bahwa hijab bukanlah akhir dari sebuah kemungkinan. Ia hanyalah bagian dari diriku. Dan mimpiku, masih jauh lebih luas daripada prasangka orang lain.(*)
- Kisah nyata seorang pekerja di televisi swasta nasional









