Simburcahaya.com – Layar ponsel Yudi kembali menyala. Dengan cepat ia membuka ruang percakapan bersama Mario. Sudah berhari-hari ia menunggu satu pesan yang sama. Kabar bahwa pinjaman online atas KTP miliknya telah dilunasi.
Namun, pesan yang datang kembali hanya berisi janji.
Di saat bersamaan, Yudi sedang membutuhkan KTP itu untuk mengurus sebuah keperluan. Namun, identitasnya masih terikat pada pinjaman yang bukan ia ajukan sendiri.
Yudi masih mengingat saat Mario (nama samaran), mahasiswa semester lima salah satu universitas di Palembang, meminta bantuan untuk meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya.
Awalnya, Yudi menolak.
Ia sempat mengatakan bahwa KTP miliknya sudah pernah digunakan untuk pinjaman online sehingga tidak bisa dipakai lagi.
Namun, Mario tetap meminta bantuan.
Karena keduanya sudah berteman cukup lama, ada rasa bersalah yang perlahan menyergap, hingga Yudi tak lagi sampai hati untuk terus menolak.
“Saya cuma ingin membantu karena sudah berteman lama. Saya pikir nanti juga cepat selesai,” ujar Yudi.
Sebelum memberikan KTP tersebut, Yudi sempat bertanya kenapa Mario tidak menggunakan identitas miliknya sendiri.
Mario mengatakan bahwa KTP miliknya sudah pernah digunakan sehingga tidak dapat dipakai lagi.
Akhirnya, Yudi memberikan KTP tersebut.
Saat itu, Yudi tidak mengetahui bahwa pinjaman online bisa diajukan dengan nominal kecil.
Ia mengira layanan tersebut hanya digunakan untuk pinjaman dalam jumlah besar.
Mario hanya mengajukan pinjaman sekitar Rp300 ribu.
Bagi Yudi, jumlah tersebut terlihat tidak terlalu besar dan seharusnya dapat diselesaikan dengan cepat.
Ia berharap Mario bisa membayar tepat waktu sehingga KTP miliknya dapat kembali digunakan tanpa masalah.
Namun, keadaan berubah ketika waktu pembayaran tiba.
Mario mulai sulit dihubungi.
Pinjaman yang awalnya Rp300 ribu kemudian bertambah menjadi sekitar Rp400 ribu karena keterlambatan pembayaran.
Tersandra KTP yang Dipinjamkan
Di waktu yang sama, Yudi sedang membutuhkan KTP miliknya untuk mengurus suatu keperluan.
Namun, ia tidak dapat melanjutkan proses tersebut karena identitasnya masih terhubung dengan pinjaman yang belum selesai.
“Waktu itu saya benar-benar panik. Saya butuh KTP untuk mengurus keperluan, tapi ternyata tidak bisa dipakai. Rasanya seperti ikut menanggung utang yang bukan saya buat,” ujar Yudi.
Aku mendengar bagaimana Yudi beberapa kali mencoba menghubungi Mario untuk menanyakan kepastian pembayaran.
Jawaban yang diterima selalu sama.
“Nanti kalau sudah ada uang, aku bayar langsung,” katanya.
Suatu waktu, Mario mengatakan akan segera mentransfer uang setelah mengisi saldo (top up) terlebih dahulu, karena uang yang dimilikinya masih berbentuk tunai.
Yudi menunggu sejak sekitar pukul 11.00 malam hingga pukul 01.00 dini hari.
Namun, uang yang dijanjikan belum juga masuk.
Tekanan yang dirasakan Yudi semakin besar ketika Mario terus menunda pembayaran. Merasa tidak mendapatkan kepastian, Yudi sempat panik dan kecewa hingga mengambil langkah lain untuk mencari jalan keluar.
Dalam kondisi terdesak, ia mengirim pesan kepada akun Instagram organisasi kampus tempat Mario aktif. Yudi berharap langkah tersebut dapat membuat Mario segera menyelesaikan pinjaman yang masih menggunakan identitas miliknya.
Keesokan harinya, Yudi kembali menghubungi Mario dan menanyakan kapan pembayaran akan dilakukan. Ia meminta agar uang yang ada segera ditransfer karena KTP tersebut sangat dibutuhkannya.
Setelah itu, Mario akhirnya mengirimkan uang sebesar Rp130 ribu.
Bagi Yudi, persoalan tersebut bukan hanya soal uang ratusan ribu rupiah.
Yang membuatnya berat adalah rasa kecewa karena kepercayaan kepada seorang teman justru membuat dirinya ikut menghadapi masalah.
Kekecewaan itu semakin terasa ketika ia melihat Mario membeli telepon genggam baru dengan harga yang cukup mahal.
Menurut Yudi, pembayaran pinjaman yang nilainya tidak terlalu besar seharusnya menjadi tanggung jawab yang segera diselesaikan.
Godaan Paylater
Jika Yudi terseret pinjaman online karena rasa percaya kepada seorang teman, cerita Ayu justru bermula dari keputusan-keputusan kecil yang ia anggap sepele.
Dari paylater hingga terjebak pinjaman online
Cerita lain datang dari Ayu (22) (nama samaran).
Berbeda dengan Yudi yang terseret karena membantu teman, Ayu mengalami jeratan pinjaman online setelah terbiasa menggunakan layanan pembayaran digital.
Nada suaranya beberapa kali mengecil ketika menceritakan hari-hari saat ia memilih meninggalkan kos demi menghindari penagih.
Mahasiswa semester akhir Fakultas Kedokteran Gigi di salah satu universitas di ibu kota negara itu awalnya menggunakan fitur paylater dari salah satu aplikasi belanja online berwarna oranye untuk membeli beberapa barang, seperti pakaian, skincare, dan kebutuhan pribadi lainnya.
Pada awalnya, semua tagihan masih dapat dibayarkan.
Kemudahan sistem pembayaran membuat Ayu merasa semuanya masih bisa dikendalikan.
Namun, perlahan jumlah tagihan mulai menumpuk.
“Awalnya merasa bisa bayar karena masih kecil. Lama-lama jadi kalap karena ngerasa nanti juga bisa dibayar,” ujar Ayu.
Ketika tagihan bulan berikutnya semakin besar, Ayu mulai merasa kewalahan.
Ia kemudian mengambil pinjaman online dari aplikasi lain “K” untuk menutup pembayaran paylater.
Saat itu, Ayu mengira pinjaman tersebut dapat menjadi solusi sementara.
Namun, dengan pengetahuan yang terbatas mengenai layanan pinjaman online, ia tidak membaca seluruh isi kontrak dengan teliti.
Ayu baru menyadari besarnya bunga dan denda ketika mengalami keterlambatan pembayaran.
Jumlah tagihan yang terus bertambah membuatnya berada dalam tekanan.
Sebagai mahasiswa rantauan yang tinggal jauh dari keluarga, Ayu harus menghadapi rasa takut dan cemas sebelum akhirnya berani menceritakan masalah tersebut kepada orang terdekat.
Timbulkan Trauma
Tekanan terbesar bagi Ayu terjadi ketika pihak penagih mulai mencari keberadaannya.
Suatu hari, orang tua Ayu menghubungi dirinya setelah ada seseorang yang datang ke rumah.
Karena belum memahami cara menghadapi situasi tersebut, orang tua Ayu memberikan informasi mengenai tempat tinggal kos dan kampusnya.
Sejak saat itu, Ayu merasa semakin takut.
Setiap kali telepon berdering dari nomor yang tidak dikenal, Ayu memilih diam. Baginya, suara dering telepon justru menjadi sumber kecemasan.
Ia pernah meninggalkan kos untuk menghindari penagihan. Namun, penagih tetap mencarinya hingga ke kampus dan meminta bertemu di depan area kampus.
“Saat itu aku benar-benar takut, sampai kabur dari kos karena tidak tahu harus bagaimana,” katanya.
Dalam kondisi tertekan, Ayu akhirnya memilih untuk jujur kepada orang tuanya.
Mendengar cerita Ayu, keluarganya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih atas masalah yang menimpa dirinya.
Namun, mereka tetap membantu Ayu mencari jalan keluar.
Selain keluarga, seorang teman juga ikut membantu ketika Ayu berada dalam kondisi sulit.
Bantuan tersebut membuat Ayu mampu menyelesaikan seluruh tagihan pinjaman online yang sebelumnya membebaninya.
Meski pinjaman online sudah lunas, perjuangan Ayu belum sepenuhnya selesai.
Ia masih memiliki tanggungan kepada teman yang sebelumnya membantu saat dirinya berada dalam kondisi sulit.
Kini Ayu kembali tinggal bersama orang tuanya. Ia tidak lagi menempati kamar kos yang dulu pernah ia tinggalkan karena takut didatangi penagih.
Di sela menyelesaikan kuliah semester akhirnya, ia masih menyisihkan sebagian uang yang dimiliki untuk mengembalikan bantuan temannya, sedikit demi sedikit. (*Nur Izzati Kharisma & Vyrania Kartika)









