Obituari: John Tobing Pencipta Lagu Darah Juang, Catatan dari Nezar Patria dan Lilik HS

Simbur Cahaya

MALAM itu, Rabu (25/2/2026) dari grup WhatsApp Penulis Buku Berjuang Melawan Tirani, salah seorang kawan me-repost informasi:
RIP, Johnsony Maharsak Lumban Tobing meninggal pukul 20.45 di RSA UGM.

Aku pun merespons “RIP” dan membuka grup lainnya, seperti KBRD nasional, dan sejumlah grup seperti di Warkop AJI Indonesia, juga mengabarkan kalau John Tobing, meninggal. Pencipta lagu Darah Juang, yang karya telah menjadi “kompor” bagi perjuangan demonstran yang awalnya bagi kelompok aktivis, melawan kediktoran Orde Baru tahun 1990-an, terutama saat aksi-aksi di depan simbol-simbol penguasa, istana presiden, kantor DPR RI alias Senayan, kantor gubernur bahkan saat ini ketika aktivis disidangkan karena kasus politik.

Sejujurnya, aku tidak mengenal secara dekat John Tobing, karena secara usia beda jauh, beda generasilah, dan aku juga aktif digerakan prodemokrasi, di Jawa Barat, dan John di Yogyakarta, ditambah saat kami deploy ke Jakarta, atau Kongres di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tahun-tahun itu dia sudah mundur dari organisasi gerakan.

Namun, masih beruntung ketika reuni Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD) terakhir, sekitar dua tahun lalu sempat bertemu dan mendengarkan langsung John menyanyikan lagu Darah Juang, dengan diiringi petikan gitar sang penjuang kemanusiaan tersebut.

Saat mendapatkan informasi, John Tobing meninggal, aku pun mengintip sejumlah akun media sosial milik kawan-kawan KBRD yang menyampaikan rasa kehilangan dan beragam doa untuk John dan keluarga yang ditinggalkan.

Unggahan di akun Facebook, Nezar Patria, yang saat ini menjabat Wamen di Kementerian Komdigi menyampaikan:
Saya menyesal berdebat dengan John Tobing saat dia membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” kata dia lewat pesan WhatsApp, awal November tahun lalu.

Saya mendebatnya dan bertanya bagaimana konsep konsernya, dan terjadilah ketegangan seperti biasa.

Dari dulu saya selalu mencoba mendetilkan apa yang ingin dilakukan John. Saya bertanya, bahkan dengan cara yang Socratic, karena kami pernah berkuliah di Filsafat UGM, dan mengejar dengan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”.

John lebih tua enam tahun dari saya, namun tercatat sebagai mahasiswa UGM pada 1986, dan saya datang empat tahun kemudian. Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat. Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak. Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana. Kami biasa bertutur cara Sumatera dengan semua serba terang dan tanpa pura-pura. Hal terpenting: kami berkawan layaknya dua bersaudara.

“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi. Dialog itu akhirnya berujung landai. Saya akan membantunya tentu saja. “Makin tua makin paten kau kutengok, John”, saya menjawab setengah mengejeknya sambil memberi emoticon tanda tertawa.

Sebetulnya John, bagi saya, tak pernah tua. Dia selamanya seorang aktivis senior berdarah muda yang saya kenal saat pertama berkuliah di Yogyakarta. Pada masa awal 1990an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar diselempangkan di punggungnya (saya membayangkannya seperti seorang pendekar bergitar) berdiri di siang terik di bulevar kampus.

Dia memegang megafon dan berteriak lantang menentang kebijakan rezim orde baru. Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba serbi yang diakuinya tidak penting. Tak ada yang berani melakukan aksi protes pada masa itu, kecuali segelintir mahasiswa, yang kelak semuanya menjadi legenda di gerakan mahasiswa Yogya semisal Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi.

Jarak John dengan angkatan saya memang agak jauh. Dia datang dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan NKK/BKK, serta Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu. Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama bagi angkatan saya, generasi 90an.

John memang dikenal sebagai sesepuh oleh angkatan yang lebih muda. Dia salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya), malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo. Dia adalah tempat bertanya apa yang terjadi pada era sebelumya dan juga sumber moralitas gerakan mahasiswa. Misalnya John melarang mereka yang suka mabuk bergabung dalam barisan.

“Kalau ingin dicintai rakyat, jangan lakukan hal-hal yang dibenci rakyat,” demikian katanya, dan ini menjadi semacam “doktrin John” dalam melakukan pengorganisiran di tengah komunitas petani.

John pada dasarnya adalah aktivis yang romantik. Dia sesungguhnya adalah seniman. Ironisnya dia menghujat kecenderungan aktivis yang sok jadi seniman, yang dianggapnya genit dan kurang disiplin. Dia juga mencibir para mahasiswa yang suka baca buku tapi tak mampu mengubah realitas politik yang tak adil, dan membiarkan rakyat menderita. “Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata saya melawan sikapnya itu dulu. “Dongok” adalah bahasa anak Medan untuk dungu.

Saya memang tak setuju soal sikapnya terhadap buku, dan saya tahu dia tidak sedang bersungguh-sungguh, hanya sebuah percobaan agitasi agar saya tak cuma membaca buku, tapi berhimpun dan berorganisasi untuk menyebarkan kesadaran kritis. “Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe”, ujarnya kemudian. Saya menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas untuk menggalinya sendiri dari buku.

John tertawa. Dia mengambil gitar, lalu mengalun lagu-lagu ciptaannya. Saat itu saya terdiam dan duduk menyimak alunan lagu-lagu itu di beranda rumah tempat kami kos bersama di Karangjati, Yogyakarta. Saya menyimak lagu “Darah Juang”, sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa.

John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998. Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu.

Sejak FKMY bubar di sekitar 1991-92, John tidak lagi aktif di gerakan mahasiswa. Juga ketika gerakan itu meluas di tahun-tahun berikutnya, John menarik diri. Dia berada di belakang para juniornya dengan memberi dukungan moral dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi. Saya mengejeknya lagi karena akhirnya, untuk skripsi itu, dia harus tergopoh-gopoh membaca buku.

Setelah reformasi 1998, John menikah dan sempat tinggal di Pekanbaru lalu bergabung dengan PDI Perjuangan di sana. Dia kalah di pemilu lokal, dan kemudian merasa politik yang harus “begana-begini” bukan tempat yang tepat dan tak sejalan dengan moralitas personalnya. Dia lalu memutuskan pindah ke Yogyakarta dan kembali menulis lagu dan sesekali “ngamen” di sejumlah acara komunitas atau lembaga. Lagu-lagunya yang lama terus dinyanyikan oleh generasi demi generasi para aktivis mahasiswa.

Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam. Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial. John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan.

Atas permintaannya yang sulit ditolak, saya menyuguhinya secangkir kopi, dengan takaran ringan alias encer. Dia tak boleh minum kopi kental. Dokter melarangnya setelah dua kali terkena stroke. Itu yang menyebabkan dia bicara sedikit pelo dan lamban. Tapi John hanya mengingat dokter kalau dia lagi tergeletak di rumah sakit. Di luar itu, nasehat dokter bisa dilupakannya, apalagi kalau bertemu kawan-kawan lama.

Saya ceritakan kepada John tentang betapa dahsyat lagunya itu memberi semangat aktivis mahasiswa dari zaman ke zaman. John hanya terdiam. Dia meminta diambilkan gitar, dan lalu memetik senarnya dengan penuh perasaan. Intro “Darah Juang” mengalun. Dia hanya terdengar bergumam, merengeng-rengeng, berusaha menyanyikan lagu itu. Saya menyaksikan seorang kawan yang bersemangat tinggi, dan bersetia kawan itu, sedang berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap begitu cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh, ketimbang sebuah podium di tengah bulevar seperti yang dilakukan John pada masa mudanya.

Akhir November lalu John terserang stroke lagi. Saat dia belum diputuskan dokter masuk ke ruang ICU di RS Panti Rini Yogya, saya sempat menelepon istrinya, Dona, yang lalu menyerahkan telepon seluler itu kepada John yang terbaring di ranjang. Kesadarannya masih ada meskipun bicaranya sudah sulit. “John cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata saya. “Hehehe coy ya konser, ya-ya hehehe”, suaranya terdengar melemah dan tak jelas. Itu rupanya terakhir sekali saya mendengar suara John.

Setelah dirawat hampir beberapa pekan di Panti Rini, John terus kehilangan kesadarannya. Lalu dia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke RSA UGM, sampai kemudian agak membaik dan dipulangkan ke rumah meskipun belum sepenuhnya bisa berbicara. Saya membesuknya dua kali untuk dua rumah sakit itu dan hanya menemukan John yang lelap tertidur dengan selang ventilator menancap di hidungnya. Melihat John terbaring adalah melihat kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di punggungnya, bersuara keras dan galak mengeritik penguasa.

Sore tadi seorang kawan menyampaikan pesan John kembali dilarikan ke rumah sakit, kesadarannya mendadak menurun. Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam tadi, dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal. Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Saya berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin dia masih bisa mendengarkannya. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ada konser yang lebih megah bagi John di alam sana.

Begitulah catatan dari salah seorang kolektif John di Yogyakarta, Nezar Patria.

Aku pun mengontak Lilik HS, eks aktivis PRD yang juga salah seorang penulis buku “Berjuang Melawan Tirani”. “Lik aku boleh minta tulisanmu ini, untuk bahan,” kataku. Salah satu tulisan Lilik yang sudah tayang di website indoprogress.com aku ketahui, setelah sang penulis mengirimkan link ke WA grup KBRD nasional.

Tulisannya cukup panjang, jadi aku edit lebih pendek, inilah narasinya, LAGU-LAGU John Tobing adalah hamparan panjang sejarah yang bergelimang darah pada zaman Orde Baru. Melodi dan baitnya, yang basah dan berjiwa, berhasil mematuk-matuk kesadaran, bahwa ada penindasan dan ketidakadilan yang luar biasa jahatnya di negeri ini.

Lebih dari 200-an judul lagu lahir dari tangan John. Dari mulai lagu anak, pop, rock, balada hingga lagu-lagu perjuangan. Sayangnya, tidak terdata dengan baik. Dalam catatan yang dibuatnya tahun 2006, ada 26 lagu yang masih ia ingat persis periode pembuatan hingga konteks politik yang melatarinya. Semua dibuat pada kisaran 1987 -1992.

Lagu Satu Kata lahir dari peristiwa Sabtu Kelabu, 5 Agustus 1989. Saat itu, sekelompok mahasiswa ITB melakukan aksi menolak kehadiran Menteri Dalam Negeri Rudini, untuk berceramah pada Penataran P4 di kampusnya. Beberapa aktivisnya, seperti Fadjroel Rachman, (alm) Arnold Purba, Enin Supriyanto, dan Jumhur Hidayat ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

John geram bukan kepalang. Pemenjaraan mereka, kendati berbeda kampus dan organisasi, ibarat tikaman perih di sekujur tubuh semua aktivis. Sebagai bentuk protes dan membangkitkan semangat mereka agar mereka tak patah, John bikin lagu. Ia ingat bait populer puisi Wiji Thukul yang berjudul Peringatan. Hanya ada satu kata: lawan! Maka dipilihlah Satu Kata sebagai judul.

Lagu Doa diciptakan pada April 1992. Saat itu hati John mendidih mendengar seorang kawannya, Kamal Bamadhaj, mahasiswa asal Malaysia berkebangsaan Selandia Baru, yang mati tertembak dalam Peristiwa Santa Cruz, Timor Timur pada 12 November 1991. Saat itu, ratusan orang memadati pemakaman Santa Cruz untuk penguburan rekan mereka, Sebastião Gomes, yang ditembak mati oleh tentara Indonesia. Mereka membentangkan spanduk bertulis Viva Timor Leste beserta gambar Xanana Gusmao. Tentara berang. Dengan beringas, mereka memberondong ratusan orang itu dengan senapan. Tak kurang 200 orang tewas. Salah satunya adalah Kamal.

‘Aku marah, sedih, muak, benci tak keruan. Kamal baru saja dari Yogya dan kami sempat diskusi cukup panjang. Kenapa pejuang seperti Kamal ditembaki tentara? Mereka bukan musuh negara, apalagi musuh rakyat!’

Amarah itu lantas ia tandaskan dalam lirik :

Kawan kami, berjuang membela
Dicap pemberontak, dikejar, ditembak…mati!
Negara ini pun gila-gilaan,
Rakyatnya sendiri diancam
Tak boleh bicara atau protes, Aceh, Priok, Dilli, Irian, Enam Lima
Semua ditembaki!

John bilang, airmatanya tak berhenti mengucur saat menciptakan lagu itu.

Tahun 1994, di sekretariat Partai Rakyat Demokratik (PRD) di daerah Depok, John bertemu Hermeningardo, aktivis pro kemerdekaan Timor Leste. Ardo, begitu biasa dipanggil, banyak membuat puisi dan syair lagu tentang tentang tanah air dan perjuangan mereka, yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Tetun.

John terkesima dengan sebuah puisi yang diterjemahkan Ardo untuknya, berjudul O Rai Timor. Berkisah tentang bumi Lorosae yang kaya raya namun terus dijajah dan rakyatnya sengsara. John menangkap aroma gelisah dan spirit yang sama dengan lagunya, Darah Juang. Ia segera meraih gitar, mengeja bait-bait puisi itu, dan jadilah lagu O Rai Timor.

Dalam sebuah pertemuan internasional yang diorganisir oleh Action in Solidarity with Indonesia and East Timor (ASIET), di Perth, Australia pada 1994, John menyanyikan lagu itu. Seluruh aktivis dari Timor Leste yang hadir di ruangan itu, tak henti-henti meneteskan airmata.

Duka yang dialami keluarga kawannya, Danial Indrakusumah dan Anung, saat putranya yang berusia 2 tahun meninggal lantaran tifus, melahirkan lagu berjudul Cadas. Kematian Cadas, ketika itu menjadi duka bersama bagi semua aktivis. Semua terpukul dan menangis. John membuatkan melody dan Agung Wibawanto membuat liriknya.

John juga piawai menulis lagu romantis. Hey, merupakan satu-satunya lagu cinta di album ini. Sebuah ungkapan cinta ala aktivis yang kukuh dan dalam, kendati akhirnya kandas di tengah jalan. Lagu ini dibuat ketika ia putus dari pacarnya. John sempat mengajak menikah, tapi si gadis tak berani.

‘Begitulah kalau orang sedang jatuh cinta, selalu berjanji akan mengubah dunia,’ kata John usai menyanyikan lagunya. ‘Meski sudah menikah belasan tahun, toh aku juga tak bisa mengubah dunia,’ ia pun terkekeh dari atas panggung.

John bikin lagu di mana saja, di kamar kost, di lorong kampus, di kampung-kampung petani, juga di lokasi KKN. Seiring terbangunnya konsolidasi mahasiswa antar kota, lagu-lagu itu pun beredar luas. Di aksi-aksi, ia menjadi menu wajib yang membakar semangat.

Nuraini, mahasiswa Filsafat UGM angkatan 1991 masih ingat, pada saat itu suasana berkesenian di Yogya terbangun cukup kental. Di majalah Fakultas Sastra UGM, Dian Budaya, setiap minggu mereka mengadakan konser musik kecil-kecilan, sambil lesehan di pelataran. Mereka kerap menyanyikan lagu-lagu John, selain juga lagu-lagu karya Yayak Ismaka, seniman yang banyak menulis lagu perjuangan seperti Aku Anak Merdeka, Satukanlah atau Titik Api.

Tapi, di aspal jalanan lah lagu-lagu John menjadi hidup, bertenaga dan menemukan rohnya. Darah Juang adalah lagu wajib sambil bergandeng tangan, berderap menyongsong barikade tentara yang siap membubarkan aksi dengan moncong senjata.

John lihai bernyanyi sejak belia. Ia ingat sebuah kisah yang kerap diulang oleh ayahnya: saat umur tiga tahun, John kecil naik ke sebuah drum minyak tanah di warung tetangganya. Ia pun menyanyikan dengan lantang lagu Guantanamera, sebuah lagu rakyat dari Kuba yang termahsyur. Lagu itu, artinya Gadis dari Guantanamo, merupakan gubahan puisi seorang penyair kiri asal Kuba, Jose Marti, yang kemudian dipopulerkan dalam banyak versi dan penyanyi. Di Amerika, tahun 1960-an sempat melejit lewat suara Pete Seeger dan Joan Baez.

Meski belum fasih melafalkan liriknya, apalagi memahami artinya, John kecil bernyanyi dengan intonasi tepat. Suaranya bagus. Orang-orang takjub. Sejak itulah, sang ayah mengakui bahwa John pintar menyanyi.

Johnsony Marhasak Lumbantobing, begitu nama lengkapnya, lahir di Binjai, 1 Desember 1965. Ia merupakan anak ke 3 dari 8 bersaudara dari pasangan Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga. Ayahnya seorang hakim yang kerap berpindah tugas ke berbagai kota. John pun melewatkan SD dan SMP di Bandar Lampung.

John menyebut dirinya pemberontak sejak kecil. Ia tumbuh dengan alunan musik dan tumpukan komik. Favoritnya adalah Godam dan Gundala Putra Petir, komik-komik superhero buatan lokal yang saat itu sangat populer.

‘Komik itu mempengaruhi aku tentang imajinasi pahlawan dan tentang perlawanan. Itu yang bikin aku melawan.’

Di Fakultas Filsafat UGM, John satu angkatan dengan Webby Warouw, Rudy Gunawan, Andi Munadjat, Untoro Hariadi, dan Sugeng Bahagijo. Dengan mereka John sehari-hari nongkrong.

Fakultas Filsafat yang biasanya damai, sontak riuh dengan puluhan mahasiswa yang menggelar aksi menentang Porkas, sejenis lotere nasional pada saat itu. Porkas, berasal dari kata forecast yang berarti tebakan atau ramalan, adalah sarana mengumpulkan dana untuk olahraga. Beredar sejak awal 1986, saat itu Porkas menyedot dana masyarakat hingga puluhan miliar.

Aksi kecil itu lantas menarik perhatian. Mahasiswa dari berbagai fakultas dan kampus mulai muncul, kontak-kontak politik pun mulai dibangun. Aksi itu juga meletupkan pemikiran baru, tentang pentingnya membangun kekuatan untuk menggerakkan kepedulian mahasiswa. Mereka perlu memperluas jaringan, melampaui tembok-tembok pembatas Fakultas Filsafat. Majalah mahasiswa, senat, dan lembaga-lembaga internal kampus, sebagai alat yang membantu perluasan jaringan, harus diperkuat.

Tahun 1989, lahir Keluarga Mahasiswa UGM (KM-UGM) yang menjadi simpul pengorganisiran di berbagai kampus. John terpilih sebagai ketua. Rupanya ada bakat lain dari John selain bernyanyi, yakni kemampuan membangun organisasi. Ia piawai melobi dan menyakinkan banyak kalangan.

Di lapangan, ia menjadi garda depan dan kerap memimpin aksi. Salah satu paling berkesan baginya adalah aksi Kusumanegaran Berdarah, saat ia menyaksikan hidung Web patah dipopor senapan. Oktober 1989, puluhan mahasiswa yang melakukan aksi Sumpah Pemuda dihadang tentara di jalan Kusumanegaran. Mereka bertahan, sambil duduk di aspal dan bergandengan tangan. Tentara menyerbu dengan beringas. Puluhan tertangkap dan diangkut ke kantor Kodim. Ada belasan luka-luka, tiga di antaranya yang paling parah digotong ke rumah sakit. Salah satunya adalah Web.

John murka. Ia cemas dengan kondisi kawannya, tapi konyolnya, ia tak berani menengok.

‘Aku takut rumah sakit. Aku takut darah. Jadi aku tak berani lama-lama lihat Web diperban hidungnya!’

Selang berapa hari kemudian, mereka kembali ke DPRD Yogya, dengan membawa massa yang lebih besar. Dalam aksi ini, John bertindak sebagai koordinator lapangan (korlap).

Tahun 1989, kasus Kedungombo, yang awalnya gigih disuarakan oleh Romo Mangunwijaya, mencuat. Pada 1985 pemerintah dengan utang dari Bank Dunia, berencana membangun waduk di Jawa Tengah sebagai pembangkit tenaga listrik. Waduk ini menenggelamkan tak kurang dari 37 desa di 3 kabupaten: Sragen, Boyolali, Grobogan. Ribuan keluarga dipaksa pindah dari lokasi dengan ganti rugi tidak memadai. Saat itu, pemerintah menyatakan ganti rugi sebesar Rp 3.000 per meter, sementara yang sampai ke tangan warga hanya Rp 250 per meter. Rakyat yang menolak terus dihajar dan diintimidasi.

Kasus inipun menjadi ramai, secara nasional maupun internasional. Gambar-gambar dan berita warga yang bertahan di rumah-rumah yang seputarnya sudah tergenang air waduk, muncul di koran-koran. Para mahasiswa turun gelanggang, termasuk dari KM UGM, yang dipimpin oleh John.

Kasus Kedungombo itu kemudian menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa di berbagai kampus dan kota, yang bersatu dalam Komite Solidaritas untuk Korban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO). Di Yogyakarta, mereka membangun FKMY, yang berkongres pertama pada 1991, dan memilih Brotoseno dari ISI sebagai ketua dan John Tobing wakilnya.

Solidaritas untuk kasus Kedungombo meledak di berbagai kota. Soeharto murka dan menuding bahwa mahasiswa yang membela rakyat Kedungombo sebagai komunis dan antek-antek PKI. Kasus-kasus tanah serupa kemudian juga pecah di berbagai daerah, seperti Jenggawah, Cimacan, dan Blangguan. Situasi penindasan yang semakin brutal justru melahirkan aksi perlawanan yang meningkat tajam.

Tetapi membangun gerakan perlawanan tak segampang membangun organisasi hobi. Usai kongres pertama, FKMY berkeping jadi dua: Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta (SMY) dan Dewan Mahasiswa dan Pemuda Yogyakarta (DMPY). SMY, dengan Andi Munadjat sebagai konsolidator kota-kota di seluruh Jawa, kemudian bertransformasi menjadi SMID dan PRD. Sementara DMPY kemudian menjadi Rode, karena kebetulan bermarkas di Gang Rode.

John menyanyikan Darah Juang bersama generasi mendatang
Indonesia negeri dengan limpahan kekayaan dan tanah subur luar biasa. ‘Tanam kayu jadi tanaman,’ ujar grup musik Koesplus. Tetapi, kenapa banyak rakyatnya menderita? Kenyataan itu mengusik pikiran John. Ketika mendatangi pelosok desa, ia jumpai degup kemelaratan di depan matanya. Ia bertemu petani di Cilacap, yang daerahnya terhampar luas hutan karet dan ia hanya jadi buruh perkebunan yang dibayar murah. Ia bertemu petani Blangguan, yang ladang jagung penghidupannya direbut tentara untuk tempat latihan. Ia menyaksikan anak-anak berbaju dekil dan ingusan, menggembala kambing sambil menatap nanar teman sebayanya berangkat sekolah.

Lama sekali John merenungkan itu. Hatinya terus dihajar gelisah. Sebuah siang, di teras sekretariat KM UGM di Pelem Kecut, Gejayan, John menggenjreng gitarnya. Rumah itu memiliki dua kamar, sebuah ruang tamu dan dapur. Sehari-hari ditinggali oleh John, Dadang Juliantara dan Satya Widodo.

Serangkaian melodi jadi, tapi John merasa tak cukup piawai bikin lirik yang menggigit. Saat itu ada Dadang, mahasiswa MIPA UGM 1984, yang dikenal kerap menulis bagus. John memintanya untuk membuatkan lirik yang mampu menerjemahkan gelisahnya. Tak lama, lirik pun jadi. John berkali-kali menyanyikannya. Banyak kawan yang terkesima. Beberapa memberikan komentar dan masukan, termasuk Budiman Sudjatmiko, saat itu kuliah di FE UGM 1989.

‘Budiman bilang kalau liriknya kebanyakan kata Tuhan. Jadi bait lirik terakhir itu, kata-kata bunda relakan darah juang kami, dari usulan Budiman,’ terang John. Lalu ada Satya Widodo menambah. Satya dan Ngarto Februana, tahun 1990, pernah bikin geger UGM dengan aksi mogok makan menolak berdirinya SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi).

Menjelang Kongres FKMY, lagu ini mereka nyanyikan bersama-sama. Bertambah lagi yang urun rembuk, termasuk Raharja Waluyajati dan Rudy Gunawan. Judulnya pun hasil usulan bersama-sama, mulai Hymne FKMY dan Hymne Darah Juang. Pada Kongres itu, pertama kalinya lagu ini dinyanyikan secara resmi dan massal.

Bertahun-tahun kemudian, lagu itu abadi dan melegenda dengan judul Darah Juang. Seiring meluasnya aksi-aksi perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru, Darah Juang semakin berkibar. Aksi-aksi tidak sah tanpa Darah Juang, Sumpah Mahasiwa, serta puisi Wiji Thukul Bunga dan Tembok, Peringatan dan Sajak Suara.

Rudy Gunawan, kawan seangkatan John di Filsafat UGM bilang, Darah Juang adalah himne terbaik. ‘Lagu itu sangat menginspirasi dan mampu menumbuhkan nyali dalam darah. Dan John Tobing adalah satu-satunya pencipta lagu hymne perjuangan di antara ratusan pencipta lagu dalam industri musik Indonesia.’

Di situs youtube, tak kurang dari 50 video lagu Darah Juang yang diunggah. Ada beberapa grup musik merekamnya secara independen, di antaranya: Teknoshit, Marjinal, Lontar dan Innerbeauty. Ada banyak versi, mulai akustik, pop, blues rock hingga seriosa.

Menggilai musik sejak kanak-kanak, pernah bercita-cita menjadi musisi profesional, harapan John kandas di tengah jalan. Pada 1993 – 1995, John pernah menjajakan lagunya ke hampir seluruh produser di Jakarta, tapi gagal. Ada beberapa pihak tertarik, salah satunya HP Record, tapi juga tak berlanjut. HP Record saat itu merupakan salah satu label cukup terkenal untuk jenis musik pop dan rock.

Konser malam itu, ditutup dengan lagu Darah Juang. Sekitar tiga menit layar di panggung menayangkan gambar John yang tengah berkisah tentang proses pembuatan lagu itu. Lalu wajahnya di balik layar menghilang. Cahaya lampu pun meredup. Muncul John sambil menenteng gitar, dan langsung memetiknya tanpa bicara. Tepuk tangan langsung bergemuruh tatkala Darah Juang mulai berkumandang.

Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur Tuhan

Diiringi petikan gitar akustik, sulit rasanya untuk mencegah agar emosi tidak meluap dan tubuh tidak menggigil. Keping-keping kenangan secepat kilat berlompatan. Roh Darah Juang, lagu wajib di jalan-jalan, mantra perekat segala zaman itu seperti melingkupi sekujur ruangan.

Pada bait kedua, seperti yang selalu terjadi, tanpa dikomando penonton pun serentak ikut bernyanyi. ‘Semua sudah pada hapal ya,’ ujar John. John terus memetik gitarnya. Sesekali matanya terpejam, sambil menyorongkan mikrofon ke arah penonton. Jadilah koor menggema tanpa dirigen.

‘Saya minta semua berdiri dan angkat tangan kiri,’ John berseru lantang. Ratusan orang di jajaran kursi di depan panggung, di balkon, serentak berdiri, mengangkat dan mengepalkan tangan kiri.

Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
‘Tuk membebaskan rakyat

Darah Juang menggaung semakin kencang. Hingga berjam-jam usai konser berakhir, ratusan kawan-kawan John masih memadati pelataran TIM. Peluk, cium, canda tawa pecah tiada henti. ‘Darah Juang seperti membumikan ingatan kami!’ celetuk seorang kawan

‘Ini seperti reuni segala zaman!’ ujar yang lainnya.

John Tobing dan Darah Juang memang tali perekat zaman.

Sumber:

https://www.facebook.com/nezar.patria

John Tobing, Darah Juang dan Tali Perekat Zaman

Artikel Lainnya

Nenek Penjual Bunga Makam: Setengah Abad Menjalani Hidup dari Kelopak Harapan

Aini Memilih Jalan Caregiver di Palembang

Segudang Prestasi Tingkat Internasional di Srijayanasa Dance School

Tinggalkan komentar