Simburcahaya.com – Yayasan Intan Mahahari (YIM) mengajak semua lapiran masyarakat untuk peduli dan melawan stigma serta diskriminaasi, terhadap HIV/AIDS termasuk gen Z di Kota Palembang.
Wakil Ketua YIM, Muhammad Suharni, mengatakan pada pertemuan Distric Task Force (DTF) kali ini, tidak hanya melibatkan anggota tetapi juga perwakilan dari generasi muda dari berbagai kampus, seperti UIN Palembang, Univeristas Tridinanti dan Universitas Taman Siswa.
“Keterlibatan gen Z sangat strategis untuk mengampanyekan isu kesetaraan, termasuk dalam perspektif penangganan dan penanggulangan HIV,” kata dia, Selasa (2/12/2025).
Dalam kegiatan bertema “Bersama Hadapi Perubahan dan Jaga Keberlangsungan HIV” tersebut, Suharni menjelaskan pentingnya kerja sama lintas pihak, termasuk organisasi masyarakat, NGO, dan kelompok kerja wilayah.
Ia mengatakan bahwa, kegiatan ini sudah diadakan kurang lebih 25 tahun, pada tahun 2004 Yayasan Intan Maharani bekerja sama dengan Penasun (Pengguna Napza Suntik) karena Napza Suntik merupakan salah satu cara menularnya HIV.
“Jadi pengguna Napza Suntik itu kerap hubungannya dengan tertularnya HIV,karena penularan HIV itu bisa dari cairan vagina,cairan sperma,lewat persalinan/lewat asi, dan darah yang lewat pengguna jarum suntik yang digunakan secara berbagi,” tuturnya.
Ia menambahkan, penyakit HIV tidak seperti TBC yang penularannya itu melalui udara, HIV itu menular karena tiga cairan yaitu cairan vagina, sperma dan juga darah.
Karena itu, penting sekali untuk terus disebarkan informasi ini, sebagai upaya memutus rantai penyebaran HIV, tambah dia.
Sementara Vanya Hakim Comunity Organizer dari Warna Sriwijaya mengatakan bahwa, kebanyakan teman teman komunitas ataupun masyarakat masih minimnya literasi ataupun informasi mengenai HIV,TBC, atau masalah Gender.
Kegiatan hari ini, sangat bagus untuk pelaku media ataupun jurnalis yang belum memahami sebuah isu dan ingin membuat berita supaya harus sesuai dengan perspektif komunitasnya, dan supaya tidak ada lagi diskriminasi dalam online atau kekerasan berbasis online.
“Saya berharap ke depan teman-teman media dapat membuat berita yang berpihak pada komunitas secara positif. Untuk NGO, ada baiknya mengembangkan media sendiri atau berkolaborasi sesama NGO di Palembang untuk membuat konten yang lebih terarah. Saya melihat teman-teman NGO di Palembang masih kurang aktif di media sosial,” kata Vanya.
Ia juga mendorong mahasiswa yang tengah mendalami dunia jurnalistik maupun media untuk menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berperspektif positif terhadap komunitas.
Dengan demikian, pemberitaan yang inklusif bisa terealisasi, tambah dia.(Mg/Joka Munir)









