Dampak Tambang Batu Bara, Krisis Air Bersih bikin Tambah Beban Perempuan saat Ramadan

Simbur Cahaya

SEPERTI biasa aku setiap pagi melihat ke belakang rumah, di sana ada aliran Sungai Kungkilan, warnanya kali ini seperti adonan kopi dicampur susu. Aduh bagaimana warga mau mencuci pakaian atau mandi, gumamku sembari menutup pintu belakang rumah.

Padahal, bulan Ramadan, kebutuhan air bersih meningkatkan, karena aktivitas bertambah, mulai dari memasak, membersihkan diri hingga untuk mencuci berbagai peralatan rumah tangga.

Tetanggaku, Ita Hartati (33) sesekali masih mencuci pakaian di aliran Sungai Kungkilan.

“Dek tau nak nyabon,” kata dia yang artinya tidak bisa mencuci pakaian di sungai, beberapa hari ini.

Ya, bagaimana mau mencuci kalau air berwarna seperti kopi susu itu.

Aku pun melihat aktivitas Ita, apa yang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan air bersih disaat sungai tidak bisa digunakan lagi karena dari hulu sudah tercemar batu bara.

Ia bercerita, tetap memenuhi kebutuhan air bersih dengan memanfaatkan sumur miliknya.

“Tapi air sumur kami juga kuning,” kata dia lagi.

Meskipun sumur kuning dan berbau, Ita dan warga lain di Desa Muara Maung terpaksa menggunakan air tersebut, karena untuk membeli air bersih dan layak konsumsi tentunya membutuhkan ekstra biaya.

Sebagai penduduk asli Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, yang kini sudah menginjak usia 47 tahun, aku telah menjalani perubahan hidup yang sangat radikal di desa.

Belasan tahun lalu, saat industri ekstraktif belum menyasar kawasan Merapi, Sungai Kungkilan menjadi andalan kebutuhan air bersih, sumur-sumur warga desa juga jernih dan sehat untuk dikonsumsi.

Namun, cerita itu kini tinggal sejarah yang pernah dialami, karena kini air sumur sudah berubah warna menjadi kuning dan berbau, dan sungai rusak.

Ketika Ramadan, krisis air bersih semakin terasa, karena kebutuhan air meningkat, untuk minum, berwudhu dan mencuci paling tidak. Dan kini air bersih di desa menjadi sulit. “Kami terpaksa membeli air galon untuk minum,” ujar Ita.(Sumhayana)

Artikel Lainnya

Wiwid pengelola Warung Pindang Mbok War, yang terdampak kekurangan ikan sungai segar karena minimnya pasokan ikan, akibat kerusakan sungai dan penguasaan ikan oleh pelaku usaha kuliner skala besar. (Foto: Simburcahaya.com/Nefri Inge)

#PerempuanRawatBumi:  Menjaga Pindang, Memulihkan Sungai di Tengah Krisis Ikan

Kristy dari Unilever, Bagikan Strategi Jurnalis Lokal Bertahan di Tengah Badai Digital, Simak Yuk!

Peran Penting Feminisme Indonesia dalam Gerakan Sosial-Politik yang Setara

Tinggalkan komentar