Simburcahaya.com — Siang menjelang sore di halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) terasa berbeda. Puluhan orang berdiri diam, poster-poster terangkat tinggi, wajah-wajah penuh keteguhan. Tanpa suara, mereka menyampaikan pesan lantang: “Merebut Kembali Keadilan Ruang Hidup Masyarakat Marginal”.
Aksi diam ini digelar oleh jaringan organisasi masyarakat sipil Palembang dalam rangka memperingati International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia. Solidaritas Perempuan Palembang, bersama KPA, LBH Palembang, dan Walhi Sumsel, menjadi bagian dari gerakan yang menuntut keadilan bagi perempuan dan kelompok marginal.
Mutia Maharani, Ketua Solidaritas Perempuan Palembang, menjelaskan bahwa poster-poster yang dibawa peserta memuat beragam kasus nyata, seperti kekerasan gender, perempuan yang berhadapan dengan konflik agraria, hingga kriminalisasi aktivis perempuan.
“Setiap tahunnya kita tahu sendiri bahwa banyak kasus kekerasan terhadap perempuan sampai femisida. Aksi ini adalah cara kami menyuarakan keresahan itu,” ungkap Mutia.
Sejak pukul 15.00 WIB, peserta berkumpul di Taman Monpera. Mereka kemudian berjalan ke depan monumen, berdiri diam selama 30 menit sambil mengangkat poster. Diam bukan berarti pasif, diam menjadi simbol perlawanan terhadap sistem yang gagal melindungi perempuan.
Mutia menambahkan, aksi ini tidak berhenti pada diam. “Besok akan ada aksi mundur sebagai simbol kemunduran demokrasi, lalu diskusi publik dan panggung rakyat. Kami ingin membuka ruang dialog, bahkan dengan pemerintah, terkait situasi di Palembang.”
Rangkaian kegiatan akan mencapai puncaknya pada 8 Maret 2026. Diskusi publik menghadirkan narasumber dari berbagai komunitas, dilengkapi seni pertunjukan dan literasi. Di akhir acara, jaringan masyarakat sipil akan membacakan pernyataan sikap mengenai hak dan penanganan kelompok marginal.
Tema #GIVETOGAIN menjadi benang merah aksi ini. Memberi ruang, memberi suara, memberi keberanian untuk kemudian memperoleh keadilan. Di Palembang, aksi diam ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan perempuan masih panjang, dan suara mereka tak akan pernah padam.(Siti S)









