BACA BERIZIK: Ketika Literasi tak Lagi Sunyi

Simbur Cahaya

Rabu malam (4/3/2026), sebuah ruangan di Palembang dipenuhi suara yang tak biasa. Bukan riuh tanpa arah, melainkan percakapan yang saling menyahut, halaman buku yang dibalik, dan tawa yang sesekali pecah. Di sana, literasi sedang dibuat “berisik”.

Diskusi perdana bertajuk BACA BERIZIK mengusung tema “Membaca, Berdiskusi dengan Riang Gembira”. Forum ini lahir dari kegelisahan sederhana, terlalu lama membaca dipersepsikan sebagai aktivitas sunyi, pasif, dan jauh dari denyut persoalan sosial. Padahal, bagi sebagian belasan anak muda malam itu, buku justru bisa menjadi alat perjuangan.

Manager Arus Aksara Perempuan, Luthfiah Revalina, membuka forum dengan nada tegas. Literasi, katanya, tak boleh hanya berhenti pada kebiasaan menggarisbawahi kalimat atau mengutip tanpa sikap.

“Lewat bedah buku malam ini kita ingin membuktikan bahwa literasi bisa menjadi sangat berisik dan mengganggu kemapanan mereka yang tidak berpihak pada rakyat. Buku adalah senjata dan diskusi malam ini sebuah cara kita untuk mengisi peluru pikiran tersebut,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi semacam aba-aba. Diskusi bukan lagi sekadar forum akademik, tetapi ruang untuk mengasah keberanian berpikir.

Membaca Dulu, Baru Bicara

Malam berlanjut dengan bedah buku “Memori Perempuan, Berjuang Melawan Tiran”. Buku ini memuat tulisan 46 perempuan yang terlibat dalam gerakan mahasiswa, buruh, dan petani sebelum dan sesudah Reformasi 1998. Diluncurkan pada 8 Maret 2024 bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional buku tersebut menjadi jembatan antara sejarah dan generasi kini.

Diskusi dipandu oleh Founder simburcahaya.com, Nila Ertina FM. Ia memulai dengan satu pengingat sederhana namun sering diabaikan baca dulu, baru berpendapat.

Menurutnya, kemampuan membaca secara kritis adalah benteng pertama agar generasi muda tidak mudah terseret arus informasi menyesatkan.

“Kita harus baca kebenarannya seperti apa lalu bicara juga. Jangan mudah percaya tanpa memahami konteksnya,” katanya.

Di tengah banjir informasi dan potongan narasi di media sosial, kebiasaan membaca utuh menjadi sikap politik tersendiri. Terutama bagi mahasiswa dan perempuan yang kerap menjadi sasaran stereotip atau manipulasi wacana.

Literasi sebagai Ruang Bertumbuh

Dalam kesempatan itu, Nila juga memperkenalkan Arus Aksara Perempuan, komunitas yang dibangun oleh simburcahaya.com sebagai ruang bertemu, berdiskusi, dan berbagi gagasan. Komunitas ini tidak hanya menjadi wadah literasi, tetapi juga ruang pengembangan kapasitas—mulai dari relawan hingga membangun portofolio kepenulisan dan advokasi isu perempuan.

“Komunitas ini penting agar kita sering bertemu dan berdiskusi membahas hal-hal yang relevan dengan kehidupan kita. Kegiatan literasi ini juga mendukung perempuan agar semakin berdaya,” ujarnya.

Di ruangan itu, literasi tak lagi berdiri sendiri sebagai kegiatan membaca buku. Ia menjadi titik temu antara pengetahuan, solidaritas, dan keberanian menyuarakan gagasan.

Diskusi Interaktif

Konsep BACA BERIZIK dibuat berbeda. Peserta membaca bergiliran, lalu berhenti pada bagian tertentu untuk didiskusikan bersama. Moderator berperan sebagai “wasit” yang menjaga dialog tetap terarah.

Metode ini memaksa setiap orang untuk memahami teks sebelum mengomentarinya. Tidak ada ruang untuk asal bicara tanpa membaca. Setiap argumen harus berpijak pada isi buku.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi latihan berpikir runtut dan mendalam—sesuatu yang semakin langka di tengah budaya serba cepat.

Sambut Perayaan IWD

Diskusi ini juga menjadi pemanasan menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret mendatang. Arus Aksara Perempuan tengah menyiapkan berbagai konten edukatif di media sosial untuk memperluas pemahaman tentang sejarah dan makna IWD.

Bagi para peserta, malam itu bukan hanya tentang mengenang perjuangan perempuan masa lalu, tetapi juga memaknai peran mereka hari ini. Bagaimana membaca bisa menjadi awal dari keberpihakan. Bagaimana diskusi bisa menjadi latihan demokrasi kecil di ruang komunitas.

Ketika “Berisik” jadi Harapan

Di akhir acara, ruangan tak lagi setenang awal. Ide-ide bertebaran. Tangan-tangan terangkat untuk menyampaikan pendapat. Ada perdebatan kecil, ada tawa, ada kesepakatan yang lahir dari perbedaan.

Melalui BACA BERIZIK, literasi direbut kembali dari kesan elitis dan sunyi. Ia dibuat riang, hidup, dan sesuai Namanya berisik.

Sebab generasi muda yang diharapkan bukanlah generasi yang diam dan patuh tanpa tanya. Melainkan mereka yang membaca dengan tekun, berpikir dengan tajam, dan berani bersuara.

Di Palembang, malam itu, keberisikan menjadi tanda harapan.(Haikal/Ert)

Artikel Lainnya

Warga Jorong Tabek Kabupaten Solok Sumbar saat memasak air nira jadi gula semut, yang menjadi kegiatan Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)

Bangun Ekonomi Kerakyatan, Dari Rumah Panggung Kini Disulap Jadi Laboratorium Ekonomi Sirkuler KBA Sumbar

BACA BERIZIK Perdana Digelar, Mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Bersama Arus Aksara Perempuan Bangkitkan Literasi Kritis

Masih banyak Stigma dan Diskriminasi dalam Layanan Kesehatan, ini Keluhan Komunitas

Tinggalkan komentar