JPO Kumuh hingga Jembatan Musi 6 yang Gelap, Salah Warga atau Kurangnya Perhatian Pemerintah?

Simbur Cahaya

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelah Masjid Agung Palembang Sumsel (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

SIMBURCAHAYA.COM, PALEMBANG – ARYO (24), warga Jakarta dibuat bingung ketika akan melintas di Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Dia harus berebut space kosong dengan kendaraan lainnya, untuk menyeberang dari depan kantor Bank Indonesia menuju ke Rumah Sakit (RS) Charitas Palembang.

Tak ada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), tak ada polisi yang membantu menyeberang jalan, jumlah kendaraan yang semakin banyak di persimpangan lampu merah tersebut, membuat langkah kakinya maju mundur untuk menyeberang.

“Selama saya di Palembang, sulit menemukan jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki, kondisi ini benar-benar tidak ramah bagi pejalan kaki,” ujarnya yang juga seorang backpacker di Indonesia.

Lain lagi di JPO di sebelah Masjid Agung Palembang. Walau kondisinya sudah tidak sekumuh dulu, namun tidak banyak warga Palembang yang memanfaatkan JPO ini untuk menyeberang.

Saat awak Simburcahaya.com menyeberang di JPO tersebut, warna cat jembatan sudah memudar, masih ada rumput-rumput yang menyembul di retakan semen di beberapa sudut jembatan. Yang parahnya, ada aroma tak sedap di jembatan tersebut, yang ternyata berasal dari seonggok kotoran hewan.

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelah Masjid Agung Palembang Sumsel (Simburcahaya.com / Nefri Inge)
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelah Masjid Agung Palembang Sumsel (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

Imran (50), warga Palembang yang melintas di JPO tersebut berkata, dia hanya sesekali menggunakan fasilitas tersebut, hanya untuk memamdang hiruk-pikuk perkotaan Palembang dari atas.

“Jarang lewat jembatan ini, biasanya kumuh, banyak orang yang tidur-tiduran, mungkin lelah, tapi bikin kita tidak nyaman menyeberang di sini. Ada bau tidak sedap juga di sini,” ujarnya.

Selain JPO yang kumuh dan jumlahnya sedikit untuk memfasilitasi pejalan kaki, penerangan jalan juga masih kurang, terutama di kawasan Jembatan Musi 6 Palembang yang sering padam.

Jembatan Musi 6 Palembang yang diresmikan tahun 2021 lalu, menghubungkan Kecamatan Seberang Ulu I dan Ilir Barat II Palembang, harusnya menjadi sarana bagi pengendara untuk memangkas waktu perjalanan. Namun dengan penerangan yang kurang, para pengendara merasa tidak nyaman dan was-was jika ada oknum-oknum yang bisa saja memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan aksi kriminalitas.

Nani (43), warga Borang Palembang pernah ingin melintas melewati Jembatan Musi 6 Palembang, saat pulang dari rumah kerabatnya di kawasan Kertapati Palembang menggunakan sepeda motor.

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelah Masjid Agung Palembang Sumsel (Simburcahaya.com / Nefri Inge)
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di sebelah Masjid Agung Palembang Sumsel (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

Namun karena pencahayaan yang kurang dan daerah di sana yang terkesan banyak aksi kriminal, akhirnya dia mengurungkan diri untuk pulang membawa sepeda motornya. Nani memilih meminta jemput suaminya pakai mobil, agar aman di perjalanan.

“Kerabatku yang orang sana juga menyarankan untuk tidak pulang malam menggunakan sepeda motor, karena rawan tindakan kriminal di sana, apalagi gelap. Jadi sepeda motor saya dititipkan dulu di rumah kerabatku, besok siang baru saya ambil lagi,” ujarnya.

Menyikapi berbagai fasilitas penyeberangan yang membuat warga Palembang tidak nyaman, Wali Kota (Wako) Palembang berkata akan segera melakukan pembenahan baik di JPO maupun Jembatan Musi 6 Palembang.

Diakui Wako Palembang, beberapa JPO di Palembang memang terlihat kumuh, tidak rapi, banyak lumut dan beraroma bau menyengat. Dia sudah meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang untuk bisa mengecek beberapa JPO di Palembang, untuk bisa diperbaiki lagi.

“Saya akui, mohon maaf, beberapa titik kumuh, tidak rapi, tidak bagus, lumut banyak, bau, ada bangkai hewan. Nantinya JPO akan disewakan dengan pihak pengembang, yang harus bertanggungjawab untuk perbaikan fasilitasnya,” ungkapnya.

Khusus untuk JPO di Masjid Agung Palembang, Pemkot Palembang sudah membuat Detail Engineering Desain (DED) untuk dibuat anjungan, sehingga pengguna JPO bisa berswafoto di sana sembari melihat pemandangan Jembatan Ampera dan Masjid Agung Palembang.

Untuk penambahan JPO di daerah lain agar bisa ramah pejalan kaki, Wako Palembang mengakui belum ada rencana ke depannya. Namun kebutuhan tersebut menjadi masukan bagi Pemkot Palembang, untuk direncakanan penambahan JPO lainnya.

Jembatan Musi 6 Palembang Sumsel saat lampu penerangan terang (Dok. Instagram @pariwisata.palembang / Nefri Inge)
Jembatan Musi 6 Palembang Sumsel saat lampu penerangan terang (Dok. Instagram @pariwisata.palembang / Nefri Inge)

Sedangkan untuk penerangan yang buruk di Jembatan Musi 6 Palembang, Wako Palembang sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Ratu Dewa juga menyayangkan fasilitas penerangan di Jembatan Musi 6 Palembang yang sudah tersedia, harus hilang karena ulah oknum tak bertanggungjawab.

“Tolong wong Palembang, lampu dan kabel jangan dicuri. Ketika sudah diperbaiki, malah hilang lagi. Uangnya (perbaikan penerangan jembatan) bukan Rp1-2 miliar saja, tapi bisa Rp5-6 miliar, tapi sering hilang,” katanya.

Dia mengakui tindakan pencurian tersebut yang selalu menjadi kendala saat Pemkot Palembang ingin mempercantik fasilitas yang disediakan. Ratu Dewa meminta tolong kepada seluruh warga Palembang, untuk sama-sama menjaga fasilitas yang sudah disediakan. (Nefri Inge)

Artikel Lainnya

SIKAP: MK Tolak Uji Materi UU PDP, Hak Publik Atas Informasi Kian Terancam

Konferensi ICIR: Jangan Mudah Terjebak Ujaran Kebencian

Peringati Hari PRT Nasional, Koalisi Sipil untuk Pengesahan UU PPRT, Desak Pemerintah Sahkan RUU

Tinggalkan komentar