Drakor When Life Gives You Tangerines, Kenapa Peran Gwan Sik Green Flag Tertinggi?

Simbur Cahaya

*Tulisan ini diproduksi dengan bantuan AI, tapi tetap dilakukan pengeditan

DRAMA sering kali bekerja bukan hanya sebagai hiburan, tetapi di sisi lain juga sebagai cermin sosial. Drakor dengan judul “When Life Gives You Tangerine” yang ramai dipuja pemeran pria, Yang Gwan Sik (Park Bo Gum) dan Oh Ae-sun (IU), Park Bo Gum berperan menjadi seorang pria yang tulus, penuh act of service, protektif tanpa mengekang, dan selalu memprioritaskan Ae Sun dalam setiap napas kehidupannya.

Drakor yang tayang di Netflix dengan 16 episode ini menghadirkan kisah sederhana tentang kehidupan, cinta, dan keluarga, tetapi di balik narasi personalnya tersimpan percakapan penting tentang relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Melalui perjalanan tokoh perempuannya, drama ini menyodorkan pertanyaan mendasar: sejauh mana perempuan benar-benar memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri?

Jeruk dalam judul drama tersebut bukan sekadar simbol rasa asam dan manis kehidupan. Ia adalah metafora tentang realitas yang tidak selalu ideal, tetapi tetap bisa diolah menjadi sesuatu yang bermakna. Dalam konteks relasi gender, metafora ini menjadi kuat—hidup perempuan sering kali berada dalam tekanan norma, ekspektasi sosial, dan struktur patriarki yang membingkai pilihan-pilihannya.

Dalam perspektif egaliter, laki-laki dan perempuan dipandang sebagai subjek yang setara dalam hak, martabat, dan kesempatan. Kesetaraan bukan berarti menyeragamkan peran, melainkan memastikan tidak ada pihak yang berada dalam posisi subordinat.

When Life Gives You Tangerine menampilkan tokoh perempuan yang berupaya keluar dari bayang-bayang ekspektasi tradisional tersebut.

Tokoh utama dalam drama ini tidak digambarkan sebagai figur yang sepenuhnya tunduk pada keputusan keluarga atau pasangan. Ia bernegosiasi, mempertanyakan, dan kadang menolak. Ia menginginkan pendidikan, kemandirian ekonomi, serta relasi cinta yang tidak bersifat dominatif. Sikap ini secara halus menantang asumsi klasik dalam masyarakat patriarkal: bahwa perempuan ideal adalah yang patuh, mengalah, dan menjadikan pernikahan sebagai tujuan utama hidup.

Patriarki di Indonesia

Di Indonesia, pola patriarki masih mengakar kuat dalam praktik sosial sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan perempuan Indonesia menghabiskan waktu kerja domestik hampir dua kali lipat dibanding laki-laki. Di banyak keluarga, keputusan strategis masih didominasi oleh laki-laki. Bahkan, tekanan sosial terhadap perempuan lajang usia produktif sering kali lebih besar dibanding laki-laki seusianya.

Pertanyaan “kapan menikah?” menjadi bentuk kontrol sosial yang dinormalisasi. Perempuan yang memilih fokus pada pendidikan atau karier kerap dilabeli terlalu ambisius atau kurang feminin. Di sinilah relevansi drama tersebut terasa. Oh Ae-Sun menghadapi tekanan serupa, ekspektasi keluarga, norma masyarakat, dan ketakutan akan stigma.

Namun drama ini tidak menghadirkan perlawanan dalam bentuk revolusi besar. Ia menawarkan bentuk resistensi yang lebih lembut atau tidak kentara, negosiasi dalam relasi, keberanian memilih, dan konsistensi pada nilai diri. Inilah yang membuatnya dekat dengan realitas Indonesia.

Perubahan sosial di masyarakat yang kuat nilai kekeluargaannya jarang terjadi melalui konfrontasi frontal, tetapi melalui proses tawar-menawar yang panjang.

Relasi cinta dalam drama ini juga menarik dibaca dari perspektif egaliter. Cinta tidak digambarkan sebagai kepemilikan atau kontrol, melainkan sebagai kemitraan.

Tokoh laki-laki tidak seluruhnya tampil sebagai figur dominan; sebagian di antaranya belajar memahami perspektif perempuan. Ini penting, karena kesetaraan gender bukan agenda perempuan semata, melainkan transformasi relasi sosial secara menyeluruh.

Patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki dalam ekspresi emosi dan pilihan hidup. Ketika laki-laki dibebani ekspektasi sebagai pencari nafkah utama atau pemimpin absolut keluarga, mereka pun terjebak dalam peran yang kaku. Dalam konteks ini, pendekatan egaliter membebaskan kedua belah pihak.

Di Indonesia, wacana kesetaraan gender sering kali dipertentangkan dengan nilai budaya dan agama. Padahal, yang dipersoalkan bukanlah tradisi itu sendiri, melainkan relasi kuasa yang timpang di dalamnya. Drama ini menunjukkan bahwa menghormati keluarga tidak harus berarti mengorbankan otonomi pribadi. Mencintai pasangan tidak harus berarti kehilangan suara.

Diksi jeruk yang asam tidak dibuang, tetapi diolah menjadi minuman yang menyegarkan. Begitu pula kehidupan perempuan dalam sistem patriarki tidak selalu manis, tetapi bisa diubah melalui kesadaran dan keberanian. Drama ini mengajak penonton untuk melihat bahwa kesetaraan tidak lahir dari slogan, melainkan dari keputusan sehari-hari: berbagi peran domestik, mendengarkan suara perempuan, serta menghargai pilihan hidup yang berbeda.

Tentu saja, representasi dalam drama tidak otomatis mengubah struktur sosial. Namun narasi populer memiliki daya membentuk imajinasi kolektif. Ketika publik disuguhi cerita tentang perempuan yang berdaya dan relasi yang setara, mereka diperkenalkan pada kemungkinan baru tentang bagaimana keluarga dan masyarakat dapat dijalankan.

Dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami transformasi sosial, di mana perempuan semakin terlibat dalam pendidikan tinggi dan dunia kerja—kisah, seperti ini menjadi relevan. Ia menegaskan bahwa kesetaraan bukan ancaman bagi harmoni keluarga, melainkan fondasi yang lebih sehat untuk membangunnya.

Drakor When Life Gives You Tangerine, bukan sekadar kisah tentang perjalanan hidup seorang perempuan. Namun, refleksi tentang bagaimana individu menegosiasikan ruang kebebasan di tengah struktur sosial yang membatasi.

Drakor ini mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu datang dalam bentuk teriakan lantang, tetapi juga dalam bisikan tegas: aku berhak menentukan hidupku.

Di tengah realitas patriarki yang masih bertahan di berbagai sudut Indonesia, drama ini menghadirkan harapan bahwa relasi yang lebih egaliter bukanlah utopia. Ia mungkin dimulai dari hal kecil dari rumah, dari percakapan, dari keputusan personal. Seperti jeruk yang awalnya terasa asam, kesetaraan mungkin tidak selalu mudah diterima. Namun ketika diolah dengan kesadaran dan empati, ia dapat menjadi rasa yang justru menyegarkan kehidupan bersama.(*)

Artikel Lainnya

PLTS Posko Anak Padi jadi Solusi Penuhi Listrik, Meskipun Bertetangga dengan PLTU

BACA BERIZIK Perdana Digelar, Mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Bersama Arus Aksara Perempuan Bangkitkan Literasi Kritis

Jumlah Anak dengan HIV Meningkat, OMS dan Dinas PPPA Palembang Bermitra untuk Tangani Kasus

Tinggalkan komentar