Bangun Ekonomi Kerakyatan, Dari Rumah Panggung Kini Disulap Jadi Laboratorium Ekonomi Sirkuler KBA Sumbar

Simbur Cahaya

Warga Jorong Tabek Kabupaten Solok Sumbar saat memasak air nira jadi gula semut, yang menjadi kegiatan Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)

TAK terasa sudah enam tahun sudah, bangunan panggung berukuran 4×20 meter di Jorok Tabek Kecamatan Hiliran Gumanti Talang Babungo Kabupaten Solok Sumatera Selatan (Sumsel) dibangun dari hasil gotong royong warga sekitar.

Rumah tersebut kini menjadi simbol dari desa wisada budaya-edukasi, sekaligus menjadi pusat inspirasi dan laboratorium ekonomi silkular di kawasan Talang Babungo Sumbar

Walau tak terlalu megah, rumah panggung tersebut sukses menjadi perpustakaan budaya dan ruang bagi konsep ekonomi kerakyatan. Bahkan di tempat tersebut, menjadi ruang bagi 90 peggiat ekonomi setempat, yang didominasi ibu rumah tangga, untuk menghasilkan suatu karya dan membangun bisnis bersama-sama.

Bahkan dari rumah panggung tersebut, mampu menjadi pusat informasi 45 homestay untuk wisatawan domestik, yang ingin berkunjung ke sana.

Kasri Satra, Ketua Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), Inisiator Ekonomi Sirkuler KBA Talang Babungo berkata, rumah pintar yang didirikan di KBA Jorong Tabek tersebut, sudah bertransformasi menjadi pusat laboratorium ekonomi sirkuler.

“Dari rumah panggung tempat tersebut lahirlah beragam inisiatif pengelolaan ekonomi yang berfokus pada pemanfaatan kembali sumber daya alam serta pengurangan limbah dan polusi,” ujarnya.

Ada banyak konsep sirkuler yang diwujudkan menjadi rantai kegiatan ekonomi. Seperti produksi gula semut berbahan baku nira pohon enau. Ada banyak nira dari pohon enau di kawasan tersebut, yang bisa disadap dengan cara melakukan teknik pemukulan pangkal bunga pohon enau.

Fungsinya untuk merangsang aliran nira ke bambu penampung. Nantinya, nira tersebut diolah jadi bubuk gula semut. Warga secara rutin melakukan proses pemanasan nira menggunakan oven dari bahan bakar gas.

Gula Semut aren hasil produksi warga di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)
Gula Semut aren hasil produksi warga di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)

“Produksi harian bisa sampai 20 Kilogram, bahkan pernah 50 Kilogram per hari. Bahkan produksi bulanannya bisa mencapai 1.500 Kg. Ada keunggulan sendiri dari gula semut kita, karena diambil dari pohon enak yang hidup di ketinggian 1.500 mdpl dengan suhu 18-24°C. Kadar gulanya juga tinggi, dengan tekstur lebih halus,” ungkapnya.

Warga juga memanfaatkan limbah produksi gula semut dan sampah organik diolah menjadi pakan maggot, yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan, yang sudah beroperasi sejak 2021 lalu. Program tersebut diintegrasikan dengan pengolahan limbah organik dan non-organik.

Pengolahan limbah organik yang bersumber dari gula semut dan gula batu berbahan baku tebu, serta dari kegiatan harian warga. Dari limbah yang diolah jadi makanan magot tersebut, yang akan menjadi makanan ikan di kolam ikan KBA.

Ada juga limbah non-organik seperti botol air mineral, bungkus makanan ringan dan lainnya yang dikelola melalui bank sampah. Dari limbah yang dikumpulkan warga tersebut, akan dihitung dalam bentuk rupiah.

“Bank sampah tempat pengelolaan sampah non organik. Pengumpulan hasil limbah non organik masyarakat dihitung sebagai tabungan yang dihitung dalam nilai rupiah dapat dapat diuangkan dalam periode kapanpun,” katanya.

Hasil limbah non organik yang berbahan baku plastik dan ada yang berbentuk logam lainnya, akan ke luar Kawasan Jorong Tabek. Sebagian hasilnya disetor ke warga, sebagian lagi dipakai untuk mendukung kegiatan ekonomi lainnya, termasuk membangun fasilitas warga di daerah KBA Astra.

Kegiatan di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA) Sumbar, juga menggerakkan ekonomi kerakyatan warga sekitar (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)
Kegiatan di Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA) Sumbar, juga menggerakkan ekonomi kerakyatan warga sekitar (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)

Kolam ikan KBA sendiri, juga menjadi sarana hiburan dan tempat rekreasi mini yang dibangun sebagai ekosistem ekonomi sirkuler di daerah Jorong Tabek. Dioperasikan dengan pola biaya masuk, untuk penikmat olahraga pancing ikan yang datang dari daerah lain di luar Jorong Tabek.

Dengan rata-rata penghasilan bersih Kolam Ikan sekitar Rp5 juta per bulan, penghasilan tersebut bisa mendukung ekonomi masyarakat yang kurang mampu, seperti kebutuhan kesehatan dan pendidikan warga. Bahkan bisa menambah biaya untuk 20 orang penerima beasiswa dari kalangan anak muda berprestasi untuk pendidikan ke Jepang.

“Daeran ini awalnya cukup terisolir, tapi kini bisa bergerak lebih baik menjadi desa wasata yang terbuka dan umum,” katanya.

Dengan ketersediaan sekitar 45 unit homestay, daerah Jorong Tabek menjadi daerah yang siap menerima kunjungan wisata dari daerah lainnya. Di mana, ekonomi sirkuler menjadi pendorong penguatan kemampuan keuangan masyarakat di Jorong Tabek. (Nefri Inge)

Artikel Lainnya

4 Langkah Transformasi Orang Muda ala 2030 Youth Force Indonesia

Magdalene Bersama 8 Media Perempuan Resmi Berjejaring di Women News Network, Dorong Iklim Kesetaraan

SimburCahaya - Guna mendorong kemandirian secara ekonomi dan mengerti hukum bagi waria dan keluarga di Kota Palembang, Himpunan Waria Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (HWMKGR) Sumsel menyelenggarakan serial meeting "Penguatan Paralegal Berbasis Keluarga dan Komunitas" Kamis (14/9/2023) yang didukung Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Ketua HWMKGR Sumatera Selatan (Sumsel) Heri mengatakan pelatihan ini tidak hanya menguatkan pengetahuan kawan-kawan waria dan keluarga terkait dengan hukum.

HWMKGR Sumsel Lakukan 2 Hal ini, untuk Dukung Waria Mandiri Ekonomi dan Mengerti Hukum

Tinggalkan komentar