Dulu Panas Terik Bikin Gerah, Kini Sinar Matahari Terangi Masjid Agung Berusia 300 Tahun lewat Solar Panel

Simbur Cahaya

Solar panel yang dipasang di rooftop Masjid Agung Palembang, yang mampu menghemat biaya pembayaran listrik PLN hingga Rp1,3 juta per bulan (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

SIMBURCAHAYA.COM, PALEMBANG – CUACA di Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) di musim kemarau, benar-benar terasa terik. Banyak warga Palembang mengeluhkan teriknya sinar surya, yang bikin gerah dan kulit menghitam, terutama yang membawa sepeda motor.

Dari laporan Climate Central pada Juni-Agustus 2024, Palembang masuk dalam 5 daerah terpanas di Indonesia. Di Stasiun Klimatologi Kenten-Sako Palembang pada Oktober 2023, suhu Kota Palembang bisa mencapai 37,2 derajat celcius, terik matahari tertinggi dalam 48 tahun di Stasiun Klimatologi Kenten-Sako, yang terasa seperti panasnya mencapai 40 derajat celcius, yang diperparah ketika kondisi El Nino.

Dulu panas terik matahari selalu dikeluhkan, namun kini Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menggandeng Universitas Indonesia (UI) untuk memanfaatkan energi surya menjadi energi listrik, yang disalurkan melalui solar panel.

Lokasi pertama yang dipasangkan solar panel di rooftop Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang, yang sudah digunakan sejak 28 November 2025 lalu. Terlebih karena Masjid Agung menjadi masjid tertua dengan umur sekitar 300 tahun, menjadi prioritas Pemkot Palembang untuk menjalankan program penghematan energi dan zero emisi.

Tiga rangkaian solar cell mampu panas matahari hingga 18,2 KWp, dengan daya baterai hingga 30KwH dan inverter berdaya 18 kW. Pemasangan solar panel tersebut merupakan kontribusi Perumda Tirta Musi Palembang melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Program energi terbarukan tersebut sangat bermanfaat mengefisiensikan anggaran Masjid Agung, yang bisa menekan biaya operasional minimal Rp1,3 juta per bulan hingga mencapai Rp24 jutaan per tahun.

“Bisa hemat pengeluaran hingga Rp1,3 juta per bulan itu saat kondisi mendung saja, tapi jika kondisi cuaca panas, pasti akan mengurangi (biaya) PLN. Solar panel ini bisa beroperasi hingga 30 tahunan dan ini sebagai langkah pemanfaatan energi terbarukan,” ujarnya saat meresmikan solar panel di Masjid Agung Palembang, Senin (19/1/2026).

Pada Desember 2025, PLTS menghasilkan 1.137,2 kWh energi listrik, sementara hingga Januari 2026 tercatat produksi sebesar 436,5 kWh. Energi tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan masjid, mulai dari sistem tata suara, CCTV, penerangan, kipas angin, televisi LED hingga pendingin udara.

Program tersebut akan diteruskan ke berbagai masjid di Kota Palembang yang akan dikebut tahun ini, dengan menggandeng perbankan dan perusahaan swasta lainnya. Namun diprioritaskan lima masjid tertua di Kota Palembang yang bahkan ada usianya hingga 250 tahun.

Dua unit baterai solar panel yang mampu menyimpan energi tenaga surya hingga 300.000 km per detik (Simburcahaya.com / Nefri Inge)
Inventer dan dua unit baterai solar panel yang mampu menyimpan energi tenaga surya hingga 300.000 km per detik (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

Dosen Fakultas Teknik (FT) UI, Ing Alfian Ferdiansyah berkata, dengan daya solar panel seharga Rp300 jutaan tersebut, bisa mencakup 3-8 jam saat listrik padam. Pemasangan solar panel di Masjid Agung Palembang, menggunakan 2 unit baterai yang bisa bertahan hingga 20 tahun dengan garansi 10 tahun ke depan.

Kampus UI melalui Yayasan Gradienta yang berbasis riset, bekerjasama dengan Bima EcoPower, perusahaan yang memproduksi baterai solar panel yang merupakan produk dalam negeri.

“Kita harus bangga karena ini satu-satunya baterai solar panel buatan anak bangsa pertama di Indonesia. Tenaga surya langsung terserap 300.000 km per detik, yang langsung masuk ke baterai. Produk ini menjadi pilihan tepat, dibandingkan menggunakan genset yang suaranya berisik dan menghasilkan emisi karena menggunakan bahan bakar,” katanya.

Direksi Bima EcoPower Yuyu Kasim menuturkan, energi terbarukan menggunakan solar panel identik dengan biaya mahal, namun tergantung dari pembandingnya seperti apa.

Jika dihitung-hitung dengan biaya listrik sehari-hari, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih murah dan mendukung energi terbarukan di Indonesia. Apalagi sudah banyak konsumen rumah tangga yang menggunakan solar panel, yang bisa menghemat pengeluaran biaya listrik rumahan.

Masjid Agung Palembang (Simburcahaya.com / Nefri Inge)
Masjid Agung Palembang (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

“Solar panel untuk rumahan sudah bisa dibeli mulai dari paket Rp45 jutaan, dengan kapasitas 2Kwp, kapasitas baterai 5KwH untuk daya listrik rumahan di bawah 3.000 Watt,” katanya.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Tirta Musi M Azharuddin berkata, program tersebut merupakan wujud nyata dukungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), terhadap pembangunan daerah berkelanjutan.

Selain menyediakan pelayanan air minum dan pengelolaan air limbah, Perumda Tirta Musi memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pemasangan PLTS tersebut adalah bentuk komitmennya mendukung energi bersih. Masjid Agung dipilih karena memiliki nilai historis, religius, dan sosial yang tinggi, serta menjadi simbol kebanggaan masyarakat Palembang.

“Kami berharap, keberadaan PLTS ini dapat menjadi inspirasi bagi fasilitas publik lainnya, termasuk rumah ibadah, untuk mulai memanfaatkan energi ramah lingkungan,” ucapnya. (Nefri Inge)

Artikel Lainnya

Aksi SP Palembang

COP29 Solusi Iklim Palsu, Solidaritas Perempuan Palembang Soroti Proyek Geothermal

Wiwid pengelola Warung Pindang Mbok War, yang terdampak kekurangan ikan sungai segar karena minimnya pasokan ikan, akibat kerusakan sungai dan penguasaan ikan oleh pelaku usaha kuliner skala besar. (Foto: Simburcahaya.com/Nefri Inge)

#PerempuanRawatBumi:  Menjaga Pindang, Memulihkan Sungai di Tengah Krisis Ikan

Ketua BEK Solidaritas Perempuan Mutia Maharani. (ist)

Perempuan Korban Kabut Asap Sumsel Rebut Keadilan

Tinggalkan komentar