Banjir Lumpur di Lingkar Tambang Batu Bara, Perempuan paling Terdampak

Simbur Cahaya

Simburcahaya.com – Banjir, kembali melanda permukimanan warga di sepanjang aliran Sungai Kungkilan, Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan pada Minggu dini hari (1/2/2026).

Sumhayana (47) warga Desa Muara Maung bercerita setiap hujan deras selalu merasa was-was, takut banjir lagi.

“Banjir lumpur sudah sering terjadi, bahkan sejak tahun 2018, karenanya saat hujan deras biasanya kami tidak bisa tidur,” kata dia.

Menurut dia, sebelum beroperasinya tambang batu bara di wilayah Merapi, air sungai meluap ke halaman dan kebun itu biasa.

Namun, sejak beroperasinya tambang batu bara, banjir tidak hanya air yang meluap sementara, lalu surut lagi, tetapi air yang datang bercampur dengan lumpur pekat.

Air bercampur lumpur juga masuk ke rumah, dan biasanya baru surut beberapa jam kemudian, tambah dia.

Ia bercerita pada dini hari Minggu (1/2/2026) air mulai masuk pada pukul 02.00 WIB dan baru mulai surut menjelang subuh.

“Air bercampur lumpur pekat yang sulit untuk dibersihkan,” kata dia lagi.

Dari hasil pantauan Yayasan Anak Padi, menurut Sahwan banjir kemarin tidak hanya merendam lahan dan pekarangan, tetapi juga belasan rumah.

“Banjir tersebut membuktikan, kalau hingga kini dampak pertambangan batu bara masih terus menghantui warga,” kata dia.

Ia berharap agar perusahaan dan pemerintah untuk memperhatikan dampak buruk yang selama ini dirasakan oleh masyarakat, akibat praktik ekonomi ekstraktif.

Dengan demikian, masyarakat lokal yang menjadi korban mendapatkan perhatian perusahaan dan pemerintah, demi keberlanjutan masyarakat rural, tambah dia.(*)

Artikel Lainnya

Kritisi Dokumen CIPP JETP 2023: Gerakan Masyarakat Sipil #BersihkanIndonesia Ungkap 7 Masalah Substansi

Penonton Antusias Saksikan Pemutaran Perdana, Film Mother Earth: Tunggu Tubang Tak akan Tumbang, Angkat Peran Penting Perempuan dalam Ketahanan Pangan

Solar panel yang dipasang di rooftop Masjid Agung Palembang, yang mampu menghemat biaya pembayaran listrik PLN hingga Rp1,3 juta per bulan (Simburcahaya.com / Nefri Inge)

Dulu Panas Terik Bikin Gerah, Kini Sinar Matahari Terangi Masjid Agung Berusia 300 Tahun lewat Solar Panel

Tinggalkan komentar