Cerita Seru Jurnalis Warga Lahat Ikut Festival JW di Serang

Simbur Cahaya

Sumhayana (48), Jurnalis Warga (JW) dari Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan tak pernah berpikir kalau akan bertemu JW dari dua provinsi yaitu Banten dan Kalimantan Timur, di Serang, Banten.

Sumhayana sejak belasan tahun lalu mulai bermukim di Desa Muara Maung, desa yang berada di lingkar tambang batu bara dan PLTU, sebelumnya ia dan keluarga bermukim di Medan, Sumatera Utara.

Namun, dengan berbagai alasan, Sumhayana bercerita sejak 12 tahun lalu memutuskan kembali ke kampung halamannya, setelah beberapa tahun merantau meninggalkan desa tempat ia lahir dan dibesarkan.

Dalam kesempatan menyampaikan orasi, Sumhayana mengungkapkan berbagai keresahan dirinya dan warga desa lainnya yang bermukim di lingkar tambang.

“Setiap hari kami menghirup debu batu bara, entah berapa banyak polutan yang ada di dalam tubuh kami, karena memang tidak pernah ada pemeriksaan,” kata dia dalam orasinya pada Festival Jurnalis Warga Surosowan, di Serang, Sabtu (8/8/2026).

Dia juga bersuara lantang bagaimana beragam upaya telah dilakukan untuk menuntut hak sebagai korban tambang batu bara.

“Saya itu, dari kecil tinggal di desa dan sejak ada tambang batu bara, desa kami berubah drastis, kerusakan lingkungan tampak dimana-mana,”

“Sungai kami yang dulu jernih berubah warna kadang hitam, kadang abu-abu, entah banyak warna sungai kami, dan tidak bisa digunakan karena airnya bercampur limbah batu bara,” kata dia lagi.

Sebagai korban banjir, Sumhayana juga bercerita kalau hingga kini ia dan belasan warga tidak mendapatkan kompensasi dari perusahaan.

“Setidaknya, ada empat perusahaan yang terindikasi menjadi penyebab banjir dusun kami,” ujar dia.

Diakuinya, sejak dulu permukimanan di dusunnya sering banjir, karena air Sungai Kungkilan, anak Sungai Lematang meluap. Tetapi, banjir dulu dengan sekarang berbeda, kalau dulu banjir hanya di halaman saja bahkan bisa menangkap ikan dan ketika air surut biasanya tanaman menjadi subur, tumbuh berkembang dan berbuah, kekinian banjir bercampur lumpur hitam dan masuk hingga ke dalam rumah.

“Paling parah 5 tahun inilah,” kata Sumhayana.

Belajar Jurnalisme

Sumhayana dan belasan pemuda di kawasan Merapi, sejak awal tahun 2025 telah menjadi bagian dalam program Jurnalisme Warga “Menangkap Suara Kelompok Rentan dalam Isu Transisi Energi” yang diselenggarakan Perhimpunan Pengembang Media Nusantara (PPMN).

Bersama JW yang mayoritas adalah pemuda dan pemudi desa lingkar tambang batu bara dan PLTU, Sumhayana belajar bagaimana memproduksi berita baik berupa berita lempang teks, memotret dan juga membuat karya jurnalistik audio visual.

“Saya gak menyangka kalau dari ikut JW bisa datang ke Banten, dan berkesempatan menyampaikan orasi,” kata dia.

Awalnya, gugup juga karena orasi di Festival JW Surosowan ini merupakan pengalaman pertama. Tapi ia mengungkapkan semua yang disampaikan dalam orasi adalah apa yang dialaminya secara pribadi dan juga dirasakan warga di dusun, jadi dia mengakui meskipun awalnya tak percaya diri, tetapi menyerbarluaskan keresahan masyarakat yang terdampak industri ekstraktif batu bara adalah tugas sebagai JW.

Sebelum menuju lokasi Festival JW Surosowan di Taman Rumah Dunia, Kota Serang, tim PPMN di antaranya, Direktur Eksekutif PPMN, Fransisca Ria Susanti dan Manager Program, Vicharius DJ mengajak Koordinator Jurnalis Warga (KJW) dan JW yang mewakili tiga provinsi berkunjung ke kantor Fesbuk Banten News atau FBN.

FBN yang dipimpin, Lulu Jamaludin dinilai menjadi salah satu pelopor jurnalisme warga di Banten, dan telah menjadi rujukan banyak kalangan, bukan hanya dalam pemberitaan memanfaatkan platform media sosial, tetapi juga dalam kehidupan nyata sesuai dengan motto FBN “Dari Dunia Maya Beraksi di Dunia Nyata”.

Sumhayana menyampaikan harapannya, JW Lahat nanti bisa mencontoh FBN karena tidak hanya menyampaikan berita yang penting bagi masyarakat, tetapi juga melaksanakan aksi nyata bagi warga yang terdampak tambang batu bara dan PLTU Keban Agung.

Di sisi lain, dia mengaku meskipun perjalanan dari Desa Muara Maung yang menempuh Waktu sekitar 6 jam perjalanan darat ke Kota Palembang, lalu menggunakan moda transportasi udara 1 jam, ditambah perjalanan darat dari Bandara Soekarno Hatta sekira 2 jam cukup melelahkan.

“Saat sampai di Lokasi itu pastinya melelahkan, tapi seru juga sebab bisa ketemu dengan JW dari Samarinda, Serang dan Direktur Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN),” kata Sumhayana.

Kumpulnya Jurnalis dan Aktivis

Festival Jurnalis Warga Surosowan, menjadi ajang kumpulnya jurnalis dan aktivis tuan rumah Banten maupun dari Jakarta dan sekitarnya.

Ajang yang diselenggarakan kolaborasi antara Climateworks Foundation, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), dan JW Surosowan tersebut menghadirkan berbagai elemen penting, mulai dari pekerja media, pegiat lingkungan, akademisi, lembaga bantuan hukum (LBH), hingga kelompok masyarakat sipil.

Taman Rumah Dunia yang dikelilingi pohon rindang tampak meriah, bukan hanya spanduk dan peralatan musik yang membuat suasana jadi terlihat festival, tetapi pameran foto karya jurnalis profesional dari berbagai media, seperti Kantor Berita ANTARA dan media lokal di Banten serta tak ketinggalan hasil jepretan JW juga menjadi daya tarik acara yang digelar siang hingga sore tersebut.

Silih berganti orasi, puisi dan musik ditampilkan penyelenggara, dalam kesempatan orasi perwakilan JW Surosowan, Ukat Saukatudin, mengungkapkan tantangan jurnalisme dalam meliput persoalan publik saat ini.

Termasuk juga dalam keberhasilan publiksi transisi energi, ia menegaskan tidak boleh hanya diukur dari angka produksi listrik atau penurunan emisi semata, tetapi juga siapa yang menanggung dampaknya, terutama masyarakat adat dan kelompok rentan. Dalam mengawal isu tersebut, Ukat menilai mutlak dibutuhkan pers yang merdeka dan bebas dari tekanan. “Ketika kita berbicara tentang transisi energi yang berkeadilan, kita juga harus berbicara tentang jurnalisme yang merdeka. Sebab transisi energi membutuhkan transparansi, dan informasi yang independen membutuhkan jurnalis yang bebas dari intimidasi serta kekerasan,” tegasnya mengutip kabarbanten.

Sedangkan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Azzumar Adhitia menilai, di sinilah letak peran krusial jurnalisme warga untuk merekam kondisi realitas di lapangan, khususnya ketika media arus utama (mainstream) dianggap gagal mengungkap konflik lingkungan secara utuh.

“Kamera ponsel kalian, tulisan-tulisan kalian di media sosial, dan laporan langsung dari tapak konflik adalah media pencerahan yang sesungguhnya. Kalianlah yang merekam jeritan rakyat ketika kamera TV memilih berpihak pada modal dan kuasa,” kata Azzumar dalam orasinya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PPMN, Fransisca Ria Susanti mengatakan jurnalisme warga berperan strategis dalam mendorong transisi energi berkeadilan.

“Menangkap suara dari masyarakat rentan menjadi sangat penting di tengah disrupsi informasi saat ini,” kata dia.

Peran JW dalam menyampaikan segala keresahan, masalah dan konflik masyarakat yang terdampak industri ekstraktif menurut dia menjadi bagian penting, harus terus diamplifikasi.

“Karena sesungguhnya, suara masyarakat akar rumput berperan krusial dalam mendorong transisi energi berkeadilan,” tega dia.(Tanya Zalzabilla/Nila Ertina)

Artikel Lainnya

Feminis Ekonomi Solidaritas: Inisiatif Perempuan Kembalikan Pangan Lokal

Magdalene Bersama 8 Media Perempuan Resmi Berjejaring di Women News Network, Dorong Iklim Kesetaraan

2 PLTU Beroperasi, Eksploitasi Batu Bara Besar-Besaran, Warga Merapi Area Keluhkan Hampir Setiap Hari Listrik Padam

Tinggalkan komentar