Di kawasan Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang, terdapat sebuah lorong yang dikenal sebagai sentra produksi layangan. Lorong ini pernah meraih juara kedua kampung kreatif tingkat Kota Palembang yang akrab disebut Kampung Layangan (Kayangan).
Di teras rumah sederhana, bilah-bilah bambu dipotong, diraut, lalu disusun menjadi rangka. Sementara di sisi lain, lembaran kertas berwarna-warni dengan berbagai motif kartun mulai dirakat. Dan beberapa layangan digantung berjejer di depan rumah yang siap untuk dijual.
Salah satu warga setempat, Evi Yuhani (42) perajin perempuan asal Garut, Jawa Barat. Sudah 10 tahun menetap tinggal bersama suaminya di Kampung Layangan ini. Terhitung setelah ia menikah pada Tahun 2016 silam.
Dua tahun setelahnya di 2018, ia mulai mengikuti arus kehidupan Kampung Layangan. Awalnya ia sedikit kerumitan membuat satu layangan. Setelah menerapkan semua proses tahapannya, ia perlahan mampu membuatnya bahkan sekarang puluhan hingga ratusan layangan terselesaikan.
“Setiap hari menghasilkan sekitar 400 layangan. Namun, di waktu tidak musim layangan produksinya menurun drastis, hanya sekitar 100 hingga 150 layangan saja,” kata Evi, Senin (9/3/2026).
Proses pembuatan layangan memiliki istilah khas yang sudah akrab di telinga para perajin. Meraut tahapan awal, yaitu menghaluskan dan membentuk bambu agar siap dijadikan rangka. Lalu mereko, menggambar motif di atas kertas. Setelah itu, tahap merakat dilakukan, yakni menempelkan rangka bambu ke kertas yang telah diberi motif.
“Kalau sempat reko sendiri, tapi kalau tidak, ya diupahkan. Untuk 100 lembar kertas, upahnya sekitar Rp10 ribu. Sementara jika membuat sendiri, harus membeli cat seharga Rp15 ribu per botol kecil,” ujar Evi sembari meraut bambu layangannya.
Motif layangan yang dibuat Evi pun beragam. Ada motif kartun yang disukai anak-anak, dengan warna merah, biru, kuning, hingga kombinasi warna-warni yang harganya lebih mahal dibanding kertas putih biasa.
Lalu, bahan utama berupa bambu satu batangnya seharga Rp5 ribu, untuk 20 bambu seharga Rp35 ribu, uang Rp10 ribu menjadi upah ongkos pengantaran ke tempat Evi. Satu bambu bisa menjadi empat tuntung dengan satu pentungnya mendapatkan lima puluh layangan.
“Kadang juga ambil bambu dari daerah Sungai Ogan, bambu di sana sedikit lebih besar dan bisa menghasilkan sedikit lebih banyak layangan dari pada bambu biasanya beli,” ungkap Evi.
Evi menjual layangan miliknya berukuran 35×35cm dengan harga Rp55 ribu per 100 layangan. Sementara layangan yang ukuran 37×37cm bisa mencapai Rp70an ribu per 100 layangan tentunya dengan motif yang lebih bagus.
Meski produksi terus berjalan setiap hari, penjualan tidak selalu stabil. Di luar bulan Ramadan, pasar cenderung sepi. Namun, para perajin tetap membuat stok sebagai persiapan.
“Musim layangan biasanya masa libur sekolah siswa, sekitar bulan Juni. Di situlah penjualan mulai meningkat,” ucap Evi.
Namun saat Ramadan tiba, ritme kembali berubah. Aktivitas produksi dihentikan lebih awal, bisanya sampai sore pukul lima sekarang berhenti sekitar pukul dua siang. Evi sebagai Ibu Rumah Tangga juga harus menyiapkan buka puasa terlebih dahulu, produksi dilanjutkan besok hari.
Menariknya, layangan buatan kampung ini tidak hanya beredar di pasar lokal. Para agen membeli dari rumah-rumah perajin untuk dijual kembali di pasar. Sebagian produk juga sudah merambah ke luar daerah.
“Melalui platform digital seperti Shopee, penjualan bisa sampai ke luar daerah, bahkan menjangkau pembeli dari negara Malaysia,” tutupnya.(Manda Dwi Lestari)









