Merayakan Hangatnya Solidaritas Perempuan di Sisterhood Festival 2026

Simbur Cahaya

Simburcahaya.com — Di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026), obrolan, tawa, dan musik menjadi bagian dari perjumpaan perempuan dalam Sisterhood Festival 2026.

Festival yang didedikasikan oleh Magdalene.co, mengusung tema “Stories, Community, and Solidarity”, menghadirkan ruang untuk berbagi cerita, berdiskusi, dan merayakan solidaritas.

Sejak registrasi dibuka pukul 09.00 WIB, pengunjung mulai berdatangan. Acara berlangsung hingga pukul 21.00 WIB, dengan rangkaian kegiatan komunitas, panel diskusi, masterclass, Sisterhood Marketplace, stand-up comedy, dan penampilan musik.

Pagi itu, festival dibuka dengan Kelas Warga: “Membuat Kebijakan yang Berpihak Pada Perempuan”. Annette Ellen dari Aliansi Ibu Indonesia dan Nabiyla Risfa Izzati, akademisi dari Kabinet Bayangan, menjadi pembicara dalam sesi yang dimoderatori Devi Asmarani, editor and chief Magdalene. Diskusi ini menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat bagaimana pengalaman perempuan dapat dibawa ke dalam pembicaraan kebijakan.

Ketika Cerita Perempuan jadi Gerakan

Memasuki siang, perhatian beralih pada pembahasan tentang inklusi sosial dan ketahanan perempuan di ruang digital. Panel “Digital Movement for Social Inclusion” menghadirkan Kalis Mardiasih, Ilma Rivai, Carahanna Marianne Schlovenn, serta penanggap Nisa Emery dari AktivisTuli Fellowship YLC Magdalene.

Sementara itu, masterclass“Building Digital Resilience for Women Journalists and Content Creators” diisi Catur Ratna Wulandari, Editor in Chief digitalMamaID.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pembukaan resmi oleh MC Ghevin dan Syifa Maulida, pesan singkat dari Pemimpin Redaksi Magdalene Devi Asmarani dan perwakilan IMS Eva Danayanti.

Siang hari, pidato singkat dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar meramaikan sisterhood festival.

Di sela-sela agenda, Sisterhood Marketplace menjadi ruang pertemuan lain. Stan UMKM lokal milik perempuan, bersama lembaga non-profit, seperti Komnas Perempuan dan Toko Sokola, disebut menjadi bagian dari festival. Di sana, dukungan terhadap usaha dan gerakan komunitas hadir melalui perjumpaan yang lebih dekat dan sehari-hari.

“Rasanya seperti pulang ke rumah yang isinya penuh dengan orang-orang yang saling mendukung, tanpa ada rasa takut dihakimi,” ujar Asha (24), salah satu pengunjung yang datang.

Bagi Asha, festival ini bukan hanya tentang menghadiri acara, tetapi juga menemukan ruang untuk merasa diterima. Kesan itu sejalan dengan semangat sisterhood yang menjadi benang merah festival: perempuan tidak harus menghadapi persoalannya seorang diri.

Dari Kemandirian Ekonomi hingga Ruang untuk Beristirahat

Pembicaraan tentang kemandirian perempuan juga mendapat tempat dalam sesi “From Economic Empowerment to Community Change”. Diskusi ini menghadirkan Yasmin dari Yayasan Lohjinawi, Jeannette Erena K. Tampi dari OCBC, dan Angty Jiwasiddi, dengan moderator Catur Ratna Wulandari.

Sementara itu, sesi “Sharing Session on Fighting Impostor Syndrome” menghadirkan Hannah Al Rashid dan Nadine Alexandra. Ada pula sesi khusus “Di Balik Layar: Saat Perempuan di Kursi Produser Film” bersama Meiske Taurisia, produser Palari Films.

Menjelang sore, festival membawa pengunjung pada pembahasan yang lebih personal. Panel “From Burnout to Boundaries” menghadirkan psikolog Anastasia Satrio, Adela Witami, S.Psi, M.Psi, dan Poppy Dihardjo, dengan moderator Aulia Adam dari Magdalene. Di ruang lain, masterclass “Financial Fitness in this Economy, bersama Widya Yuliarti, CFP, dari Ruang MeNyala by OCBC membahas literasi finansial.

Dua sesi itu memperlihatkan bahwa solidaritas juga dapat tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengenali batas diri, mengelola kelelahan, dan membangun kemandirian ekonomi.

Suara dari Daerah, Tawa, dan Musik

Sore berlanjut dengan panel “Beyond Jakarta: Amplifying Women’s Voices from the Region”. Betty Herlina dari Bincang Perempuan, Devi Asmarani dari Magdalene, Eva Danayanti dari International Media Support, dan Siti Latifah dari Kutub hadir dalam diskusi yang dimoderatori Siti Parhani.

Sesi ini menjadi pengingat bahwa cerita perempuan tidak berhenti di Jakarta. Pengalaman dari berbagai daerah juga memiliki tempat dalam percakapan tentang komunitas, media, dan solidaritas.

Setelah rangkaian diskusi, suasana festival bergerak menuju hiburan. Trivia Night “Quizterhood, Bareng Bibil, Aurel dan Awal” menjadi salah satu agenda sebelum penampilan komedi.

Pukul 19.30 WIB, panggung diisi Zahra Petani melalui penampilan standup comedy. Dalam suasana yang lebih cair, tawa menjadi cara lain untuk merayakan pengalaman bersama.

Menutup Hari dengan Nyanyian Bersama

Puncak hiburan hadir pukul 20.00 WIB melalui penampilan Endah N Rhesa. Duo musisi ini menjadi penampil terakhir sebelum festival ditutup pukul 21.00 WIB.

Saat musik mengalun, suasana yang sejak pagi dipenuhi percakapan dan diskusi berubah menjadi ruang bernyanyi bersama. Pengunjung yang sebelumnya datang dengan cerita masing-masing, kini berbagi momen dalam satu panggung.

Penampilan ini menjadi penutup yang manis bagi Sisterhood Festival 2026. Bukan hanya karena musiknya, tetapi karena sepanjang hari festival telah mempertemukan berbagai pengalaman perempuan dari kebijakan, ruang digital, ekonomi, hingga kesehatan mental dalam satu ruang yang sama.

Pada akhirnya, “Stories, Community, and Solidarity” bukan sekadar tema yang tertulis di acara. Ia hadir melalui cerita yang dibagikan, komunitas yang saling menguatkan, dan solidaritas yang tumbuh dari perjumpaan. Di Melting Pop, M Bloc Space, Sabtu itu, perempuan merayakan bahwa setiap cerita memiliki tempat untuk didengar.(Senia Aprinia Sari)

Artikel Lainnya

Warga Jorong Tabek Kabupaten Solok Sumbar saat memasak air nira jadi gula semut, yang menjadi kegiatan Kampung Berseri Astra Jorong Tabek (KBA), (DOk. Humas KBA / Simburcahaya.com)

Bangun Ekonomi Kerakyatan, Dari Rumah Panggung Kini Disulap Jadi Laboratorium Ekonomi Sirkuler KBA Sumbar

Mahasiswa KKN Rekognisi UIN Kelompok 402, Susur Sungai Anak Lematang Bersama DLH Lahat

Tanggapi Dugaan Kasus KS oleh Pimpinan Pondok Pesantren, Yeni Roslaini: Jangan Diam!

Tinggalkan komentar